KOTA TANGERANG, bantensatu.id – Di saat sebagian besar warga Kota Tangerang terlelap dalam buaian mimpi, sebuah drama kepahlawanan melawan amukan si jago merah pecah di Jalan Galeong, Kelurahan Margasari, Karawaci. Pada Minggu dini hari (11/1/2026), Rumah Makan Sambal Gledek menjadi saksi bisu betapa tipisnya jarak antara bencana dan keselamatan, serta betapa tebalnya nyali para petugas pemadam kebakaran.
Lonceng darurat berbunyi tepat pukul 00.09 WIB melalui layanan 112. Tidak butuh waktu lama bagi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang untuk merespons. Hanya dalam 12 menit, raungan sirine 16 unit armada pemadam memecah kesunyian malam, tiba di lokasi pukul 00.21 WIB.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Tangerang, Mahdiar, menyatakan bahwa situasi di lapangan jauh dari kata mudah. Api yang melahap area kuliner populer tersebut membumbung tinggi, mengancam pemukiman padat penduduk yang mengepung lokasi kejadian.

“Ini bukan sekadar memadamkan api pada material bangunan, tapi upaya sistematis melindungi marwah keamanan warga. Petugas kami tidak hanya menggunakan fisik, tapi juga strategi taktis untuk memutus perambatan api di tengah keterbatasan akses air,” ungkap Mahdiar
Kegigihan di Tengah Krisis: ‘Air Jauh, Nyali Dekat’
Kendala klasik namun krusial muncul: sumber air yang jauh dari titik api. Namun, bagi 53 personel yang terjun ke lapangan, keterbatasan bukan alasan untuk mundur. Mereka membentuk rantai pasokan air yang dinamis, memastikan selang-selang pemadam tetap menyemburkan harapan.
Hingga pukul 02.15 WIB, di saat hawa dingin menusuk tulang, para petugas justru bermandikan peluh dan kepulan asap pekat. Mereka terus berjibaku, merangkak di antara puing, memastikan tidak ada titik api sekecil apa pun yang tersisa.
“Melihat mereka bekerja seperti melihat sebuah simfoni perjuangan. Meskipun wajah mereka tertutup jelaga hitam, mata mereka memancarkan keteguhan yang luar biasa. Tangerang beruntung memiliki garda terdepan sekukuh ini,” ungkap Anindya Pratiwi, seorang sosiolog perkotaan yang meninjau dampak sosial pasca-kejadian.
Senada dengan hal tersebut, Bambang Sugiyanto, warga setempat yang ikut terjaga, menambahkan: “Saya melihat petugas itu memanggul selang yang sangat berat dalam waktu lama. Mereka tidak mengeluh sedikit pun meski api sangat panas. Benar-benar pengabdian yang melampaui tugas.”
Meskipun kerugian materiil diperkirakan mencapai angka yang signifikan—mengingat Sambal Gledek adalah destinasi kuliner yang cukup besar—BPBD memastikan tidak ada korban jiwa dalam insiden ini. Integritas petugas dalam melakukan penyisiran (sweeping) di tengah kobaran api memastikan evakuasi berjalan sempurna.
“Saat ini fokus kami adalah pendinginan total. Kami pastikan tidak ada bara tersembunyi. Luas area dan taksiran kerugian sedang didalami oleh tim teknis kami,” tegas Mahdiar Kepala BPBD Kota Tangerang

Peristiwa ini menjadi pengingat bagi masyarakat Indonesia, khususnya di kota-kota besar, bahwa bahaya kebakaran tidak mengenal waktu. Kesiapsiagaan BPBD Kota Tangerang adalah bukti bahwa profesionalisme yang dibalut rasa kemanusiaan mampu mencegah tragedi yang lebih memilukan.
Masyarakat diimbau untuk selalu memastikan instalasi listrik dan kompor dalam keadaan aman, terutama pada jam rawan malam hari. Jika melihat kepulan asap, jangan tunda untuk menghubungi Layanan Darurat 112 atau melalui Aplikasi Tangerang LIVE.
Kegigihan BPBD Kota Tangerang di Karawaci dini hari ini bukan sekadar tugas dinas, melainkan manifestasi nyata dari moto mereka, Pantang Pulang Sebelum Padam, Walau Nyawa Menjadi Taruhan. (Irin Masi)




