CILEGON, bantensatu.id – Di tengah kepungan cerobong asap dan gemerlap lampu pabrik kimia terbesar di Asia Tenggara, Kota Cilegon justru menyimpan luka sosial yang mendalam di tahun 2026. Predikat sebagai “Kota Industri” tidak lagi berbanding lurus dengan kesejahteraan warga lokal. Data terbaru menunjukkan industri manufaktur dan petrokimia di wilayah ini mulai mencapai titik jenuh dalam penyerapan tenaga kerja, memicu alarm krisis ekonomi bagi ribuan pencari kerja di Banten.
Ketimpangan ini menciptakan jarak yang lebar antara kemajuan teknologi industri dengan kesiapan sumber daya manusia (SDM) lokal, memaksa pemerintah daerah dan pelaku usaha untuk melakukan evaluasi radikal terhadap kebijakan rekrutmen.
Menanggapi fenomena ini, pelaku industri memberikan sudut pandang yang realistis sekaligus kritis. Malim Hander Joni, Pejabat HR & General Affair PT Indorama Petrochemical, mengungkapkan bahwa tantangan penyerapan tenaga kerja bukan sekadar masalah kemauan perusahaan, melainkan adanya celah (gap) kompetensi yang semakin lebar.
“Kita berada di era di mana industri bergerak sangat cepat menuju otomatisasi dan digitalisasi. Kebutuhan kami akan tenaga kerja kini sangat spesifik dan memiliki standar kompetensi yang sangat tinggi”.
“Seringkali, kami kesulitan menemukan kecocokan antara kurikulum pendidikan lokal dengan kebutuhan teknis di lapangan. Ini adalah tantangan besar yang harus kita selesaikan melalui sinergi antara dunia pendidikan dan industri agar warga lokal tidak hanya menjadi penonton di rumah sendiri,” tutur Malim Hander Joni.
Kekecewaan masyarakat lokal pun kian memuncak. Warga di sekitar lingkar industri mulai mempertanyakan komitmen tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility) yang seharusnya mampu memberdayakan pemuda sekitar. Namun, dari kacamata intelektual, penyerapan tenaga kerja tidak bisa lagi dipaksakan secara kuantitatif tanpa adanya peningkatan kualitas kualitatif.
Pemerintah daerah didesak untuk tidak hanya menjadi perantara, tetapi juga arsitek pelatihan kerja yang relevan dengan kebutuhan industri 2026. Tanpa adanya jembatan yang kokoh antara ruang kelas dan ruang kontrol pabrik, Cilegon hanya akan terus menjadi kota transit bagi tenaga kerja ahli dari luar daerah, sementara warga lokal terperangkap dalam lingkaran ketidakpastian.
Transformasi Cilegon di tahun 2026 harus dimulai dari pengakuan bahwa investasi besar-besaran tidak otomatis menghapus pengangguran. Dibutuhkan kebijakan affirmative action yang didorong oleh data akurat dan kejujuran antara pengusaha dan pemerintah. Suara dari praktisi seperti PT Indorama Petrochemical menjadi pengingat bahwa masa depan industri adalah masa depan kompetensi, bukan sekadar domisili.( Arief Hidayat)




