TANGERANG SELATAN, BantenSatu News – Dinamika cuaca ekstrem kembali menguji ketahanan infrastruktur urban di wilayah Tangerang Selatan. Memasuki pagi hari Jumat (1/5/2026), aksesibilitas publik di koridor utama Jalan Raya Pondok Aren mengalami stagnasi akibat genangan air yang menetap di titik-titik krusial, terutama di area depan Pasar Ceger hingga pintu masuk Perumahan Taman Mangu.
Berdasarkan tinjauan di lapangan pada pukul 08.00 WIB, elevasi air yang mencapai 30 sentimeter menciptakan sekat fisik bagi mobilitas warga. Kontur jalan yang cekung di lokasi tersebut menjadikannya titik akumulasi air yang signifikan. Meskipun kendaraan bertonase besar masih mampu melintas secara perlahan, para pengendara roda dua—yang menjadi tulang punggung pergerakan ekonomi lokal—terpaksa memilih opsi mitigasi mandiri dengan berputar arah guna menghindari risiko kerusakan mekanis pada kendaraan mereka.
Sisi humanis terpancar di tengah kendala ini, di mana warga setempat secara swadaya berperan sebagai navigator dadakan. Mereka mengarahkan arus lalu lintas menuju jalur alternatif di sekitar area komersial demi menjaga denyut aktivitas masyarakat tetap berputar. Namun, ada catatan penting yang menjadi keresahan kolektif: durasi surutnya air yang kini dirasakan jauh lebih lambat dari periode sebelumnya.
“Kondisi ini sudah bertahan sejak Kamis malam (30/4). Ada indikasi aliran drainase tidak berfungsi secara optimal,” ungkap Hafiz (30), seorang warga yang mengamati situasi di lokasi. Hal senada disampaikan Aji (25), pengguna jalan yang menyoroti perlunya perhatian lebih pada pusat-pusat banjir musiman agar tidak terus berulang dan merugikan produktivitas warga.
Fenomena ini menjadi sinyal kuat bagi pemangku kebijakan untuk meninjau kembali integritas sistem drainase primer dan sekunder di kawasan penyangga ibu kota. Diperlukan langkah terintegrasi antara normalisasi saluran air dan edukasi pengelolaan sampah pasar agar fungsi ekologis saluran air dapat kembali pulih sepenuhnya.
Ketangguhan sebuah kota tidak hanya diukur dari kemegahan fisiknya, tetapi dari seberapa cepat sistemnya mampu pulih dari tekanan alam. Sinergi antara pemerintah dan partisipasi aktif warga dalam menjaga lingkungan menjadi kunci utama bagi Tangerang Selatan dalam menghadapi tantangan hidrometeorologi di masa depan.
Pewarta:Dudi Arifin| Editor:Rosyid



