KOTA TANGERANG, BantenSatu News – Momentum Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 di Kota Tangerang menjadi panggung bagi dialektika kritis mengenai keadilan sosial dan masa depan ketenagakerjaan Indonesia. Berkumpul di Taman Gajah, puluhan aktivis yang tergabung dalam Poros Baru Tangerang menyampaikan aspirasi kolektif yang menyoroti kesenjangan kebijakan terhadap realitas masyarakat akar rumput.
Koordinator Lapangan, Aditya Nugraha, menekankan bahwa perjuangan buruh saat ini tidak hanya terbatas pada upah, melainkan pada penciptaan ekosistem kerja yang bermartabat. Salah satu poin krusial yang diangkat adalah urgensi ratifikasi Konvensi ILO Nomor 190 (C190). Langkah ini dipandang sebagai instrumen hukum vital untuk memutus rantai kekerasan seksual sistemik di lingkungan kerja, mengingat data menunjukkan prevalensi pelecehan yang masih sangat tinggi bagi pekerja di Indonesia.
“Ratifikasi ini akan memberikan standar tegas bagi korporasi untuk memiliki kebijakan internal anti-kekerasan yang memanusiakan pekerja,” tegas Aditya.
Selain isu ketenagakerjaan, Poros Baru Tangerang yang terdiri dari berbagai elemen mahasiswa dan pelajar seperti SEMMI, FAM, hingga LMND Banten, menyuarakan kekhawatiran atas fenomena lost generation. Mereka menilai tanpa strategi penanggulangan PHK yang komprehensif, generasi muda terjebak dalam ketidakpastian lapangan kerja dan mahalnya biaya pendidikan.
Sorotan tajam juga diarahkan pada implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menyusul insiden keracunan yang terjadi di wilayah Pinang baru-baru ini, massa mendesak adanya evaluasi total terhadap standar keamanan pangan sekolah. Aspirasi ini bahkan berujung pada seruan bagi institusi pendidikan di Tangerang untuk berani mengambil sikap tegas menolak program tersebut jika kualitas dan keamanannya tidak terjamin bagi kesehatan siswa.
Melalui lima tuntutan utama—mulai dari penguatan pengawasan ketenagakerjaan hingga penanggulangan pengangguran—aksi ini menjadi pengingat bagi pengambil kebijakan bahwa kesejahteraan bangsa harus dibangun di atas landasan integritas dan perlindungan manusia yang hakiki.
Aksi damai ini menegaskan bahwa suara dari daerah seperti Tangerang merupakan kompas bagi arah kebijakan nasional. Harapan besarnya, pemerintah dapat merespons tuntutan ini sebagai langkah korektif menuju Indonesia yang lebih adil bagi kaum buruh dan lebih aman bagi generasi penerus.
Pewarta: Dudi Arifin| Editor: Ismail Saleh



