Selasa, 04 Agustus 2026

per

Basis Republik Rontok di Tengah Klaim ‘Kebohongan Baru’ Perang Iran

Grafik penurunan elektabilitas Donald Trump bersanding dengan potret sang presiden saat memberikan pidato dengan mimbar berlatar bendera AS.
Titik Nadir Sang Presiden: Menjelang Pemilu Paruh Waktu (Midterm Election) November 2026, tingkat persetujuan publik nasional terhadap Donald Trump anjlok ke angka 36 persen, diperparah oleh resistensi politik domestik akibat kebijakan tarif dan eskalasi militer dengan Iran. (Foto: Dok. Jaringan Media)
WASHINGTONbantensatu.id, Panggung politik domestik dan luar negeri Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, tengah berada dalam guncangan hebat. Menjelang Pemilihan Paruh Waktu (Midterm Election) yang dijadwalkan bergulir pada November 2026, benteng kepercayaan publik terhadap sang presiden dilaporkan retak secara masif. Ironisnya, erosi dukungan ini justru meletup di sejumlah negara bagian yang selama ini dikenal sebagai lumbung suara tradisional dan basis terkuat Partai Republik.
Berdasarkan data agregat dari survei berkala terbaru yang dirilis oleh lembaga Civiqs, tren ketidakpuasan publik terhadap kinerja Trump pasca-pelantikan 20 Januari 2025 kini telah menyentuh angka psikologis yang mengkhawatirkan. Melibatkan lebih dari 120.000 pemilih terdaftar di 11 negara bagian, tingkat persetujuan (approval rating) nasional terhadap Trump terpuruk di angka 36 persen. Sebaliknya, mayoritas responden sebesar 59 persen secara terbuka menyatakan tidak puas.
Kondisi ini menempatkan Trump pada catatan persetujuan bersih (net approval) yang defisit hingga minus 24 poin. Mengutip laporan Newsweek, saat Trump pertama kali mengamankan masa jabatan keduanya pada Januari 2025, tingkat kepuasan publiknya masih kokoh di zona positif di seluruh wilayah yang ia menangkan dengan selisih di atas 10 persen pada Pilpres 2024. 
Namun, potret politik berubah drastis dalam beberapa bulan terakhir. Sedikitnya 11 negara bagian merah—sebutan untuk basis Republik—kini mencatatkan angka net approval negatif. Di Texas, Trump harus puas dengan angka persetujuan 40 persen berbanding 54 persen ketidakpuasan (minus 13 poin). Sementara di Florida, angka penolakan berada di level 54 persen dengan persetujuan hanya 42 persen. Pola kerontokan elektoral ini juga terkonfirmasi di Alaska, Iowa, Kentucky, Louisiana, Missouri, Mississippi, Nebraska, Ohio, dan Carolina Selatan.
Analis Civiqs menemukan bahwa pemicu runtuhnya kepercayaan ini berbeda di tiap wilayah. Di beberapa negara bagian, tren penurunan tajam terjadi pasca-pemerintahan Trump secara sepihak mengumumkan kebijakan tarif dagang baru yang agresif terhadap sejumlah mitra global pada April lalu. Sedangkan di wilayah seperti Kentucky dan Missouri, antipati publik berakar dari kecemasan masyarakat atas eskalasi militer dan bayang-bayang perang terbuka dengan Iran yang meletup sejak Februari.
Di tengah situasi domestik yang terjepit, Trump mencoba mengalihkan narasi publik ke panggung global melalui klaim kemenangan diplomasi sepihak. Melalui platform Truth Social, Trump sesumbar bahwa militer AS saat ini berada dalam status siaga tempur penuh dengan kesiapan daya gentar yang diklaim belum pernah terlihat lagi sejak era Perang Dunia II.
Namun, Trump mendadak melunak dengan mengklaim dirinya telah menyetujui penundaan serangan bom udara baru ke wilayah Iran. Ia berdalih keputusan itu diambil setelah menerima memo permintaan darurat dari Teheran dan para pemimpin Timur Tengah terkait kesepakatan koridor damai baru yang mencakup pembukaan total Selat Hormuz serta penghentian program nuklir Iran.
Respons dari seberang lautan datang dengan sangat cepat dan menghantam. Pemerintah Iran melalui jaringan militer dan kantor berita semi-resmi Mehr membantah keras narasi fiktif yang dilemparkan Gedung Putih. Teheran menegaskan tidak pernah ada surat maupun perwakilan yang meminta Washington membatalkan agresi militer. Pihak militer Iran secara lugas melabeli ucapan Trump sebagai sebuah “kebohongan baru” (new lie) yang sengaja diproduksi untuk menekan secara psikologis negara-negara di kawasan Teluk.
Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, turut melayangkan peringatan keras terukur ke Washington agar menghentikan segala bentuk aksi “petualangan” militer yang berbahaya di Timur Tengah. Araghchi menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran saat ini berada dalam status siaga satu (full alert) dan siap membebankan konsekuensi fatal bagi pihak mana pun yang nekat merusak stabilitas teritorial mereka. Perbedaan diametral kedua negara ini memastikan bahwa di saat posisi politik Trump melemah di dalam negeri, bara api di Selat Hormuz justru kian tidak terprediksi.
“Anjloknya elektabilitas Donald Trump menjelang midterm election ini adalah hukuman logis dari publik yang mulai pulih dari mabuk populisme. Trump mengira dia bisa terus mendikte isi kepala pemilihnya dengan memproduksi hoaks geopolitik di media sosial, pamer kekuatan militer seolah ini masih era Perang Dunia II.
Begitu Civiqs mengeluarkan angka 36 persen dan Teheran menelanjangi klaimnya sebagai kebohongan baru, di situlah kita melihat berakhirnya sihir politik transaksional. Basis Republik di Texas dan Florida itu rontok bukan karena kekurangan logistik, tapi karena mereka sadar bahwa kebijakan tarif dan obsesi perang Trump justru mencekik leher ekonomi mereka sendiri.
Pemimpin yang defisit legitimasi di dalam negeri biasanya akan mencari kompensasi dengan berlagak menjadi pahlawan di luar negeri. Sialnya, Iran bukan penonton pasif yang bisa ditakut-takuti lewat Truth Social, yakni mereka membalas dengan kalkulasi yang dingin.
Ini adalah kritik fundamental,  ketika kekuasaan dioperasikan lewat kebohongan struktural dan narsisme personal, maka keruntuhan elektoral adalah satu-satunya kepastian yang tersisa. Trump sedang terperangkap dalam oven politik yang ia nyalakan sendiri. Berpikir waras atau digilas oleh sejarah, itu hukum besinya.”

Reporter: ARumka| Editor: Faisal

Tags

Terkini