Jumat, 17 Juli 2026

per

TPA Jatiwaringin Membara Sepekan, Ratusan Jiwa Mengungsi di Tengah Kepungan Asap Beracun

Asap tebal membubung tinggi dari area Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin Tangerang yang terbakar.
Visualisasi operasi pemadaman jalur darat menggunakan alat berat ekskavator untuk mengurai material sampah yang membara di bawah permukaan TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang.
KABUPATEN TANGERANG, bantensatu.id — Krisis ekologis dan kemanusiaan tengah melanda wilayah utara Kabupaten Tangerang, Banten. Memasuki hari ketujuh, kebakaran hebat yang menghanguskan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Kecamatan Mauk belum kunjung padam sepenuhnya. Sejak api pertama kali berkobar pada Selasa (30/6/2025), hamparan gunungan sampah seluas 15 hektar bertransformasi menjadi tungku raksasa yang terus menyemburkan asap pekat berbahaya, memaksa ratusan warga sekitar mengungsi demi mempertahankan napas mereka. 
Hingga Senin (6/7/2026), intervensi pemadaman terus diintensifkan melalui jalur darat dan udara. Sebanyak 8 hingga 9 unit armada pemadam kebakaran dari Kabupaten Tangerang dikerahkan setiap hari, kini diperkuat oleh bantuan personel dari Sudin Pemadam Kebakaran Kota Tangerang serta tim infanteri lingkungan hidup, Manggala Agni.
Namun, menghentikan kebakaran TPA bukanlah perkara mudah. Karakteristik kebakaran sampah menyimpan bom waktu di bawah permukaan. Petugas di lapangan menjelaskan bahwa kendala terbesar berada pada eksistensi bara api laten yang bersembunyi jauh di kedalaman tumpukan sampah. Ketika angin kencang berembus dan cuaca panas ekstrem melanda, oksigen masuk menyulut kembali material kering di permukaan. Petugas terpaksa mengurai gunung sampah menggunakan ekskavator (beko) satu demi satu agar air dapat menjangkau titik api terdalam.
Komitmen percepatan pemadaman juga datang dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Melalui otoritasnya, dua helikopter pembom air (water bombing) telah beroperasi menjatuhkan ribuan liter air. Merespons situasi yang masih kritis, BNPB mengonfirmasi akan menambah dua unit helikopter lagi esok hari, sehingga total armada udara menjadi empat unit. Sebaliknya, rencana Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) terpaksa ditangguhkan selama sepekan ke depan akibat absennya potensi awan hujan yang memadai di atas langit Tangerang.
Eksodus Kemanusiaan dan Bayang-Bayang ISPA
Dampak destruktif kebakaran ini langsung menusuk ke jantung kehidupan komunal warga. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, memaparkan bahwa sebanyak 232 jiwa kini telah dievakuasi ke Balai Desa Tanjakan Mekar guna menghindari paparan polusi udara kronis. Dari total pengungsi tersebut, terdapat kelompok rentan yang membutuhkan penanganan khusus, termasuk 60 anak-anak, 26 balita, 7 lansia, 1 ibu hamil, dan 1 warga difabel. 
Kekhawatiran medis kini menjadi kenyataan visual di posko kesehatan. Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat, mengungkapkan bahwa tercatat sedikitnya 139 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) telah menyerang warga terdampak. Menghadapi situasi ini, Pemerintah Kabupaten Tangerang yang telah menetapkan status Tanggap Darurat Bencana sejak 1 hingga 14 Juli menjamin seluruh biaya pengobatan warga digratiskan.
Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) secara berkala menerjunkan dua mobil laboratorium pemantau kualitas udara dan tiga alat portabel ke lokasi kejadian. Dirjen Penegakan Hukum (Gakkum) KLH, Rasio Ridho Sani, mengonfirmasi bahwa meskipun visualisasi titik api mulai berkurang dan terdapat tren penurunan partikel polutan PM2.5 pada hari kelima dibandingkan hari kedua, ambang batas udara di beberapa titik spasial sekitar TPA masih masuk kategori Tidak Sehat.
Pemerintah mengeluarkan maklumat tegas agar masyarakat mutlak menggunakan masker dan mengosongkan aktivitas luar ruangan dalam radius aman 1,7 kilometer dari pusat kebakaran. 
Jurnalis kami berhasil mewawancarai pihak berwenang guna menggali kedalaman mitigasi penanganan polusi udara yang tengah mengepung pemukiman warga di Kecamatan Mauk.
Jurnalis: “Bagaimana KLH melihat ancaman riil parameter polutan PM2.5 di sekitar pemukiman warga, mengingat jumlah penderita ISPA terus melonjak signifikan dalam waktu sepekan ini?”
Rasio Ridho Sani (Dirjen Gakkum KLH): “Kami terus memantau kualitas udara di lokasi secara real-time. Memang dari data analitik hari kelima, terjadi penurunan konsentrasi partikel berukuran 2,5 mikrometer (PM2.5) di udara jika dibandingkan fluktuasi pada hari kedua kebakaran. Ini berkorelasi dengan penurunan titik api akibat efektivitas water bombing BNPB dan penyemprotan darat oleh Damkar serta Manggala Agni. Namun, kami harus jujur bahwa di beberapa titik, kualitas udara masih berada pada level tidak sehat. Oleh karena itu, proteksi diri adalah harga mati. Kami meminta masyarakat tetap
memakai masker medis dan segera mengakses pos kesehatan terdekat jika merasakan keluhan respirasi.” 
Jurnalis: “Mengenai pembatasan aktivitas warga, sejauh mana simulasi pemodelan teknis dilakukan untuk menjamin warga yang tidak mengungsi tetap aman?”
Jumhur Hidayat (Menteri Lingkungan Hidup): “Berdasarkan elaborasi data pantau kami bersama BMKG, simulasi pemodelan teknis untuk parameter kunci PM2.5 memperkirakan batas aman warga untuk beraktivitas di luar ruangan adalah di luar radius 1,7 kilometer dari titik pusat TPA Jatiwaringin.
Di dalam radius tersebut, udara sangat berisiko bagi pernapasan langsung. Langkah keselamatan prioritas kami saat ini adalah menggeser warga ke titik pengungsian di kantor desa yang dinilai aman, menyiagakan tim medis konstan, dan mendistribusikan masker secara masif. Anggaran darurat daerah telah dikunci oleh Pemkab Tangerang untuk memastikan aspek pemulihan berjalan tanpa kendala.
Kebakaran di TPA Jatiwaringin sejatinya bukan sekadar peristiwa alam tentang tumpukan sampah yang terbakar akibat cuaca, melainkan monumen atas kegagalan kita mengelola sisa konsumsi peradaban. Ketika ratusan jiwa, termasuk bayi dan ibu hamil, harus terusir dari rumahnya hanya untuk mempertahankan hak paling elementer manusia—yaitu menghirup udara bersih—di situ kita melihat fungsi pelayanan publik sedang mengalami kelumpuhan ekologis.
Helikopter pembom air yang hilir mudik di langit Tangerang adalah drama teknokratis yang mahal, sebuah upaya memadamkan akibat dari sebab yang selama bertahun-tahun kita abaikan, yakni  salah urus tata ruang dan manajemen sampah.
Asap hitam yang mengepung Mauk adalah metafora dari kabut kebijakan yang gagal membaca bahwa racun lingkungan selalu mengorbankan mereka yang paling rentan di struktur sosial bawah. Kita tidak sedang kekurangan air untuk menyiram api, kita sedang kekurangan imajinasi ekologis dalam merawat masa depan.
Reporter: Agam Wijaya
Editor: Faisal

Tags

Terkini