Lebak, bantensatu.id- Musim kemarau panjang tidak sepenuhnya menjadi hambatan bagi petani di Kabupaten Lebak, Banten. Sejumlah petani justru memanfaatkan kondisi tersebut dengan beralih dari tanaman pangan yang membutuhkan banyak air ke komoditas cabai yang dinilai lebih adaptif terhadap keterbatasan pasokan air.
Pilihan tersebut memberikan hasil ekonomi yang cukup menjanjikan. Harga cabai yang relatif tinggi dan permintaan pasar yang tetap kuat membuat komoditas hortikultura tersebut menjadi sumber pendapatan alternatif bagi petani selama musim kemarau.
Salah seorang petani cabai di Blok Sangiang Tanjung, Kabupaten Lebak, Musa (55), mengatakan dirinya membudidayakan cabai rawit oranye atau yang dikenal sebagai cabai setan di lahan seluas sekitar 2.500 meter persegi.
Baca juga: Digitalisasi Perizinan Dorong Investasi Kota Tangerang Capai Rp5,45 Triliun
Dengan investasi sekitar Rp20 juta, kebun cabainya telah menghasilkan sekitar 1 ton dari delapan kali panen. Jika dihitung berdasarkan harga jual Rp45 ribu per kilogram, pendapatan kotor yang diperoleh mencapai sekitar Rp45 juta.
“Kami sudah memanen delapan kali dengan menghasilkan sekitar 1 ton dan harga Rp45.000 per kilogram (kg), maka dikalkulasikan Rp45 juta,” kata Musa, Minggu.
Menurut Musa, tanaman cabai tersebut masih produktif dan biasanya dapat dipanen hingga sekitar 15 kali. Masa panen yang relatif panjang membuat komoditas tersebut dinilai cukup menguntungkan bagi petani di wilayah yang menghadapi keterbatasan sumber air.
Baca juga: Pemprov Banten Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Serang Fair 2026
Ia menjelaskan, budidaya cabai menjadi salah satu strategi petani menghadapi musim kemarau panjang. Berbeda dengan padi yang membutuhkan pasokan air cukup besar, cabai dapat menjadi alternatif ketika sumber air mulai terbatas.
“Kami sudah biasa jika musim kemarau panjang beralih ke pertanian cabai dibandingkan pertanian padi pangan yang membutuhkan banyak pasokan air,” ujarnya.
Petani lainnya, Roup (50), juga memilih membudidayakan cabai merah keriting di lahan seluas 1.500 meter persegi. Hingga kini, ia telah melakukan dua kali panen dengan total produksi sekitar 150 kilogram.
Dengan harga penampungan mencapai Rp50 ribu per kilogram, hasil sementara tersebut memberikan pendapatan sekitar Rp7,5 juta.
Roup mengatakan tanaman cabai merah keriting yang berasal dari Jawa Tengah tersebut mulai dipanen sekitar 85 hari setelah tanam. Masa produktifnya dapat berlangsung hingga 120 hari dan memungkinkan panen dilakukan hingga sekitar 10 kali.
“Kami memperkirakan pendapatan ekonomi hasil panen cabai bisa mencapai Rp50 juta dengan modal biaya produksi Rp20 juta,” katanya.
Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana petani beradaptasi terhadap perubahan kondisi lingkungan dan musim. Ketika air menjadi faktor pembatas, pilihan komoditas menjadi bagian penting dalam menentukan keberlanjutan usaha pertanian sekaligus menjaga pendapatan keluarga.
Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Dodi Hermawan, mengatakan peralihan komoditas dari tanaman pangan ke sayuran, termasuk cabai, memang banyak dilakukan petani ketika memasuki musim kemarau.
Menurutnya, tanaman sayuran dan cabai relatif tidak membutuhkan pasokan air sebesar tanaman pangan tertentu sehingga dapat menjadi pilihan bagi petani yang berada di wilayah dengan keterbatasan sumber air.
“Di musim kemarau para petani memasok sayuran dan cabai hingga puluhan ton ke sejumlah pasar tradisional di Banten dan DKI Jakarta dengan perputaran uang hingga ratusan juta per hari,” kata Dodi.
Perputaran ekonomi tersebut memperlihatkan bahwa pertanian bukan sekadar aktivitas produksi di lahan, tetapi juga bagian dari rantai ekonomi yang menghubungkan petani, pedagang, pasar, hingga konsumen di berbagai wilayah.
Kemarau boleh mengeringkan sebagian sumber air, tetapi tidak semestinya mengeringkan daya hidup masyarakat. Petani Lebak menunjukkan bahwa keterbatasan dapat menjadi ruang untuk beradaptasi ketika pengetahuan, keberanian memilih komoditas, dan kebutuhan pasar bertemu. Pada akhirnya, tanah tidak hanya menghasilkan panen; ia menghasilkan kemungkinan—dan dari kemungkinan itulah ekonomi rakyat terus menemukan jalannya.
Reporter: VA Editor: Faisal




