Senin, 24 Agustus 2026

per

PCNU Tangsel Tetapkan Tujuh Arah Khidmat 2026–2031, Dorong NU Jadi Pencipta Perubahan

Pengurus PCNU Kota Tangerang Selatan periode 2026–2031 menetapkan tujuh arah khidmat untuk memperkuat organisasi, pemberdayaan jamaah, pendidikan, dan kemandirian ekonomi.
Pengurus PCNU Kota Tangerang Selatan periode 2026–2031 usai dilantik dan menetapkan arah khidmat organisasi untuk lima tahun ke depan.

Tangsel, bantensatu.id- Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Tangerang Selatan periode 2026–2031 menetapkan tujuh arah khidmat sebagai pijakan organisasi dalam menjalankan pengabdian lima tahun ke depan. Agenda tersebut mencakup penguatan organisasi, pemberdayaan jamaah, kemandirian ekonomi, pendidikan, transformasi digital, penguatan pesantren, serta penguatan peran NU sebagai rumah besar kebangsaan.

Tujuh arah khidmat tersebut ditetapkan bersamaan dengan pelantikan PCNU Kota Tangerang Selatan periode 2026–2031 di Graha Aswaja II, Kota Tangerang Selatan, Minggu. Prosesi pelantikan turut ditandai dengan pembacaan baiat yang dipimpin langsung Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar.

Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Tangerang Selatan KH Abdullah Mas’ud atau Gus Mas’ud mengatakan, pelantikan tersebut menjadi momentum untuk menyatukan tekad dan komitmen seluruh jajaran dalam menjalankan amanah organisasi.

Baca juga: Investasi Spiritual Al-Amjad: LPTQ Kabupaten Tangerang Seleksi Ketat Calon Duta Tilawah Gemilang Tingkat Dunia

“Kami ingin menyatukan tekad dan komitmen untuk berkhidmah di PCNU Kota Tangerang Selatan,” kata Gus Mas’ud dalam sambutan perdananya.

Menurutnya, memasuki abad kedua NU, kader tidak cukup hanya menjadi pengguna perubahan. Mereka harus memiliki kemampuan untuk menciptakan inovasi dan memberikan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.

“Kami tidak cukup menjadi user. Kami harus menjadi creator, innovator, dan problem solver,” tuturnya.

Baca juga: Menelusuri Jejak Sang Guru Pejuang di Tengah Modernitas Cisauk

Gus Mas’ud menjelaskan, tujuh arah khidmat PCNU Tangsel bertumpu pada tiga agenda besar, yakni menguatkan jamiyah, memberdayakan jamaah, dan membangun peradaban bangsa.

Dalam aspek penguatan jamiyah, konsolidasi organisasi menjadi prioritas. PCNU Tangsel diarahkan menjadi organisasi yang modern, profesional, transparan, dan akuntabel, namun tetap berakar pada tradisi pesantren serta nilai Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah.

“Modernitas tidak boleh membuat NU kehilangan ruhnya,” kata Gus Mas’ud.

Sementara dalam pemberdayaan jamaah, keberhasilan organisasi tidak semata diukur dari banyaknya kegiatan, tetapi dari seberapa besar keberadaan NU mampu meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.

Penguatan kemandirian ekonomi juga menjadi agenda penting. PCNU Tangsel akan mendorong terbentuknya ekosistem ekonomi yang menghubungkan pengusaha NU, profesional, UMKM, pesantren, koperasi, lembaga keuangan syariah, filantropi, wakaf produktif, hingga potensi ekonomi jamaah.

“Karena itu, lima tahun ke depan, kami harus serius membangun ekosistem ekonomi NU Tangerang Selatan. Kami harus menghubungkan pengusaha NU, profesional, UMKM, pesantren, koperasi, lembaga keuangan syariah, filantropi, wakaf produktif, dan potensi ekonomi jamaah,” ujarnya.

Arah khidmat berikutnya adalah revolusi pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. Gus Mas’ud menilai kualitas manusia akan menjadi salah satu penentu masa depan NU memasuki abad kedua.

“Kami ingin anak-anak NU tidak hanya menjadi penonton perubahan. Mereka harus hadir di kampus-kampus terbaik,” katanya.

Selain pendidikan, PCNU Tangsel juga menempatkan transformasi digital, penguatan pesantren, dakwah dan Aswaja, serta penguatan NU sebagai rumah besar kebangsaan sebagai bagian dari agenda organisasi.

Gus Mas’ud menegaskan pesantren harus tetap menjadi pusat pengembangan peradaban NU. Tradisi keagamaan, majelis taklim, Lailatul Ijtima’, sanad keilmuan, serta nilai Aswaja An-Nahdliyah perlu terus diwariskan kepada generasi muda.

“Pesantren harus tetap menjadi jantung peradaban NU. Majelis taklim harus hidup. Lailatul Ijtima’ harus kuat. Tradisi keagamaan harus diwariskan. Sanad keilmuan harus dijaga. Aswaja An-Nahdliyah harus terus ditanamkan kepada generasi muda,” katanya.

Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie mengapresiasi peran NU yang dinilainya tidak hanya menjaga kehidupan keagamaan, tetapi juga berkontribusi dalam memperkuat kebangsaan dan harmoni sosial.

Menurut Benyamin, pembangunan daerah tidak cukup hanya berorientasi pada pembangunan fisik. Penguatan karakter, sumber daya manusia, dan kehidupan spiritual masyarakat juga menjadi bagian penting dari pembangunan.

“Pemkot meyakini pembangunan tak hanya fisik tapi juga karakter masyarakat, SDM dan spiritual masyarakat. Kami harap sinergi akan terjalin erat dalam berbagai program pembangunan pendidikan, kesehatan, pembinaan generasi muda dan kemasyarakatan,” kata Benyamin.

Lima tahun ke depan, arah khidmat PCNU Tangsel pada akhirnya akan diuji bukan oleh banyaknya program yang dicanangkan, melainkan oleh seberapa nyata perubahan yang dirasakan jamaah. Organisasi yang hidup bukan organisasi yang paling ramai berbicara tentang masa depan, tetapi yang mampu membuat masa depan menjadi lebih manusiawi. Di titik itulah khidmat menemukan maknanya: ketika tradisi tidak menjadi beban masa lalu, melainkan menjadi energi untuk menciptakan perubahan.

Reporter: VT  Editor: Faisal

 

Tags

Terkini