bantensatu.id- Koki sekaligus Runner Up MasterChef Indonesia Musim 6, Firhan Ashari, mendorong promosi kuliner khas daerah agar semakin dikenal masyarakat luas. Salah satu sajian yang menurutnya perlu mendapat perhatian lebih adalah Rabeg khas Banten.
Menurut Firhan, Rabeg masih belum terlalu familiar bagi masyarakat di luar Banten. Padahal, makanan berbahan dasar daging kambing dengan kuah berwarna cokelat tersebut memiliki cita rasa khas dan merupakan bagian dari warisan kuliner Banten.
“Kalian tahu Rabeg? Baru dengar, kan? Rabeg itu adalah makanan Banten,” kata Firhan seusai konferensi pers Ini Rasa Kita 2026 di Jakarta, Selasa.
Baca juga: Sop Durian 78 Ciledug, Kuliner Legendaris Pecinta Durian yang Bertahan Sejak 2014
Ia menilai Rabeg perlu diperkenalkan secara lebih luas agar masyarakat dari berbagai daerah dapat mengenal sekaligus menikmati salah satu kekayaan kuliner Nusantara tersebut. Firhan menggambarkan Rabeg sebagai sajian yang memiliki karakter rasa menyerupai kari, tetapi dengan cita rasa yang cenderung manis. Menurutnya, kuliner tersebut memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan Kesultanan Banten.
“Sebenarnya tuh turunnya dia dari kari juga. Cuma dia diubah sedemikian rupa kesukaannya si Sultan,” ujarnya.
Rabeg diketahui merupakan salah satu kuliner warisan Kesultanan Banten yang hingga kini masih dilestarikan dan disajikan masyarakat, terutama di wilayah Banten seperti Serang.
Baca juga: Berburu Kue Tradisional di Pasar Kue Subuh Sitanala, Ikon Kuliner Legendaris Kota Tangerang
Firhan mengatakan promosi kuliner tradisional tidak selalu harus dilakukan dengan mempertahankan tampilan yang sama seperti penyajian konvensional. Menurutnya, inovasi dapat dilakukan agar makanan tradisional lebih menarik bagi masyarakat yang belum mengenalnya.
Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah memadukan makanan tradisional dengan teknik atau tampilan modern tanpa menghilangkan karakter utama hidangan tersebut.
“Kalau makanan Indonesia yang tampilannya sangat sederhana, biasa aku fusion-kan, jadi lebih modern,” katanya.
Menurut Firhan, tampilan makanan menjadi salah satu faktor yang dapat menarik perhatian masyarakat, khususnya generasi muda dan mereka yang belum familiar dengan kuliner tradisional tertentu. Namun, inovasi tersebut tetap harus mempertahankan cita rasa dan identitas makanan sehingga karakter khasnya tidak hilang.
Selain melalui inovasi penyajian, Firhan menilai promosi kuliner daerah juga dapat dilakukan melalui konsep gerai sementara atau pop-up diner. Konsep tersebut memungkinkan makanan tradisional diperkenalkan secara lebih dekat kepada masyarakat dengan suasana dan pendekatan penyajian yang berbeda.
“Saya pernah bikin pop-up diner, yang saya angkat tuh makanan-makanan Indonesia, lebih dikenalkan ke orang-orang luar,” ungkapnya.
Menurut Firhan, pendekatan semacam itu dapat menjadi salah satu cara untuk membawa makanan khas daerah keluar dari wilayah asalnya sekaligus memperluas jangkauan pasar kuliner tradisional.
Rabeg bukan sekadar hidangan berbahan daging kambing. Di balik semangkuk kuah beraroma rempah terdapat jejak sejarah Banten yang diwariskan lintas generasi. Tantangannya kini bukan hanya mempertahankan resep, tetapi membuat kuliner tersebut tetap relevan di tengah perubahan selera masyarakat. Sebab kuliner tradisional akan terus hidup ketika mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitas yang membuatnya istimewa.
Reporter: VA Editor: Faisal




