SERANG, Banten Satu News – Darurat sampah yang membayangi wilayah penyangga ibu kota dan Serang Raya kini memasuki babak baru yang lebih teknologis. Pemerintah Pusat, melalui Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), secara resmi menjalin kemitraan strategis dengan Pemerintah Provinsi Banten untuk membangun dua fasilitas raksasa Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
Proyek ambisius ini akan dipusatkan di dua titik krusial: Jatiwaringin (Kabupaten Tangerang) dan Cilowong (Kota Serang). Dengan target penyelesaian dalam tiga tahun, fasilitas ini diproyeksikan mampu menyerap dan mengolah hingga 4.000 ton sampah per hari, mengubah beban ekologis menjadi aset energi yang produktif.
Menteri LH/Kepala BPLH, Hanif Faisol Nurofiq, menekankan bahwa proyek yang didanai oleh Daya Anagata Nusantara (Danantara) ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan sebuah revolusi pengelolaan limbah berbasis regional. “Pembangunan PSEL adalah langkah strategis menjawab darurat sampah. Namun, teknologi secanggih apa pun akan sia-sia tanpa fondasi pemilahan sampah di tingkat rumah tangga,” tegas Hanif, Senin (30/03/2026).
Konsep yang diusung adalah aglomerasi, di mana fasilitas di Cilowong akan melayani wilayah Serang Raya yang mencakup Kota Serang, Kabupaten Serang, hingga Kota Cilegon. Pendekatan regional ini diharapkan mampu menciptakan efisiensi biaya dan dampak lingkungan yang lebih merata.
Gubernur Banten, Andra Soni, menyadari bahwa masa pembangunan tiga tahun adalah waktu krusial untuk mengubah perilaku masyarakat. Ia berkomitmen untuk mengintensifkan sosialisasi pemilahan sampah secara masif. “Selama konstruksi berjalan, tugas berat kita adalah mengedukasi warga agar sampah yang sampai ke PSEL sudah terpilah, sehingga biaya pengelolaan tidak membengkak dan membebani publik,” ujar Andra Soni.
Langkah ini menandai pergeseran paradigma dari sekadar membuang sampah menjadi memanen energi. Jika berhasil, Banten tidak hanya akan bersih dari tumpukan limbah, tetapi juga menjadi pelopor kemandirian energi berbasis sirkular ekonomi di Indonesia.
Transformasi sampah menjadi listrik adalah janji teknologi, namun keberhasilannya tetap bergantung pada tangan-tangan warga yang memilah di dapur mereka sendiri.
Penulis: Ajie Pangestu
Editor: Armand




