Rabu, 13 Mei 2026

per

Fenomena Buaya Putih Cisadane: Antara Mitos, Edukasi Ekologi, dan Pesan Harmoni BPBD Tangerang

Seekor buaya berwarna terang (putih) sedang berjemur di pinggiran Sungai Cisadane yang tenang.
Penampakan buaya muara berwarna terang di bantaran Sungai Cisadane, Kedaung Wetan, yang viral dan menjadi objek edukasi keselamatan bagi warga sekitar.
TANGERANGBantensatu News, Sebuah fenomena alam yang memicu sentimen kolektif warga terjadi di bantaran Sungai Cisadane, kawasan Kedaung Wetan, Neglasari, Kota Tangerang. Kemunculan seekor buaya berwarna putih yang terekam kamera warga baru-baru ini tidak hanya memicu kehebohan visual di media sosial, namun juga membawa pesan mendalam tentang pentingnya koeksistensi antara manusia dan alam di tengah hiruk-pikuk urbanisasi.
Dalam potongan video yang viral, predator air dengan pigmentasi langka tersebut tampak tenang berjemur di tepian sungai. Kehadirannya seolah mengingatkan bahwa sungai ikonik ini tetap menjadi koridor biologis yang vital, meski berada di jantung permukiman padat.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang bergerak cepat merespons fenomena ini dengan pendekatan yang intelektual dan humanis. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Tangerang, Andia S. Rahman, mengonfirmasi bahwa peristiwa tersebut terpantau pada Rabu (6/5/2026).
“Benar, dua hari lalu terpantau. Namun hingga saat ini, belum ada informasi lebih lanjut mengenai kemunculannya kembali di lokasi yang sama,” ujar Andia dalam keterangannya, Jumat (8/5).
Pendekatan Ekologis: Menghormati Ruang Hidup
Secara ilmiah, kemunculan buaya di area ini tergolong jarang. Andia menjelaskan, berdasarkan analisis komunitas pencinta reptil, individu tersebut diduga merupakan jenis buaya muara (Crocodylus porosus). Habitat aslinya seharusnya berada di area muara, namun dinamika air sungai memungkinkan satwa ini menjelajah lebih jauh ke hulu.
Alih-alih melakukan tindakan represif atau evakuasi yang berisiko menyakiti satwa, BPBD justru mengedepankan imbauan etis kepada masyarakat. Petugas di lapangan menekankan agar warga tidak melakukan provokasi fisik terhadap buaya tersebut.
“Jika terlihat kembali, mohon jangan diganggu. Biarkan saja, nanti satwa tersebut akan kembali ke kedalaman air dengan sendirinya. Jangan melempar batu atau tindakan destruktif lainnya,” pesan petugas dalam sosialisasi di lokasi.
Seruan ini mencerminkan cara pandang baru dalam menghadapi konflik satwa dan manusia: bahwa keamanan manusia tidak harus dibayar dengan kekerasan terhadap satwa. Harmoni di sepanjang Sungai Cisadane hanya dapat tercipta jika masyarakat mampu menempatkan diri sebagai tetangga yang bijak bagi ekosistem sungai.
Hingga berita ini diturunkan, personel BPBD terus melakukan pemantauan berkala guna memastikan tidak ada eskalasi ancaman, sembari terus memberikan edukasi literasi fauna kepada warga di sekitar bantaran sungai agar tetap waspada tanpa harus merasa terancam secara berlebihan.( Lita/Faisal)

Tags

Terkini