KOTA TANGERANG —Bantensatu News, Penanganan bencana banjir di wilayah urban bukan sekadar persoalan kalkulasi debit air, melainkan sebuah kewajiban moral untuk merawat ruang hidup dan martabat kemanusiaan warga yang kerap terpinggirkan oleh genangan. Menjawab jeritan tahunan warga Kampung Candulan di Kelurahan Petir, Kecamatan Cipondoh, Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang resmi memberikan dukungan penuh terhadap rencana evaluasi teknis Bendungan Polor. Langkah krusial yang diinisiasi oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung-Cisadane ini disorot sebagai momentum strategis untuk membongkar akar masalah banjir langganan di wilayah perbatasan tersebut.
Secara geografis dan sosiologis, Kampung Candulan telah lama menjadi episentrum kerentanan sosial setiap kali intensitas hujan meningkat. Berdasarkan pemantauan lapangan terkini, keberadaan Bendungan Polor diduga kuat menjadi titik krusial yang menginterupsi laju aliran Kali Angke. Alih-alih berfungsi sebagai pengendali, struktur bendungan ini dinilai menghambat debit air untuk mengalir ke kawasan hilir secara optimal, sehingga memicu arus balik yang merendam pemukiman warga.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Tangerang, Taufik Syahzaeni, menegaskan bahwa pendekatan matematis dan pemodelan hidrologi menjadi landasan utama dalam mengevaluasi infrastruktur warisan ini. Kebijakan ini diambil demi mengembalikan hak warga atas lingkungan tinggal yang aman dan bebas dari rasa cemas.
“Kami menyambut baik rencana BBWS Ciliwung-Cisadane yang akan mengambil tindakan evaluasi terkait keberadaan Bendungan Polor yang kalau dihitung secara matematis itu menjadi penghambat debit air Kali Angke sehingga banjir sering kali melanda kawasan pemukiman sekitar,” ujar Taufik.
Langkah teknokratis ini tidak akan berjalan di ruang hampa. Pemkot Tangerang memastikan proses pengambilan keputusan pasca-evaluasi akan mengedepankan prinsip kolaborasi lintas sektoral yang inklusif. Formulasi solusi, baik berupa modifikasi struktur bendungan maupun rekayasa aliran, akan digodok bersama demi meminimalisir dampak sosial di lapangan. “Hasil evaluasi nantinya akan dibahas bersama-sama dengan lintas sektoral jadi prosesnya masih terus berjalan,” tambah Taufik.
Sebagai bantalan dari rencana besar ini, Pemkot Tangerang juga telah menyusun peta jalan jangka panjang melalui normalisasi masif Kali Angke. Proyek penataan kapasitas sungai ini akan dibagi ke dalam beberapa zona prioritas, meliputi sektor Bendungan Polor hingga Jembatan Merah, Jembatan Merah menuju Ciledug Indah, serta interkoneksi Ciledug Indah hingga kawasan Graha Raya. Proyek ini menjadi manifesto penting bahwa penyelesaian banjir urban harus diselesaikan secara hulu-hilir tanpa menyisakan trauma bagi warga.
Komitmen pemulihan ruang hidup ini kini berada pada fase krusial menanti hasil kajian hidrologi formal. Di tengah ketidakpastian cuaca ekstrem, warga Kampung Candulan menaruh harapan besar agar cetak biru evaluasi teknis ini segera bermutasi menjadi aksi nyata di lapangan, sehingga normalisasi tidak sekadar menjadi jargon birokrasi, melainkan penyelamat bagi peradaban urban di Kota Tangerang.
Pewarta: Irin Masi | Editor: Faisal



