bantensatu.id- Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026, masyarakat memiliki banyak pilihan untuk memaknai momentum kemerdekaan. Selain mengikuti upacara dan berbagai perlombaan khas Agustusan, mengunjungi destinasi wisata sejarah dapat menjadi alternatif untuk mengisi waktu bersama keluarga sekaligus mengenal perjalanan bangsa.
Museum, monumen, bangunan bersejarah hingga situs perjuangan tidak hanya menawarkan pengalaman wisata, tetapi juga menyimpan rekam jejak mengenai bagaimana Indonesia melewati masa penjajahan, mempersiapkan Proklamasi, hingga mempertahankan kemerdekaan.
Wisata sejarah juga dapat menjadi ruang pembelajaran yang lebih dekat bagi anak-anak dan generasi muda. Sejarah tidak hanya hadir melalui buku pelajaran, tetapi dapat ditemui langsung melalui bangunan, benda peninggalan, dokumentasi, dan lokasi yang menjadi saksi berbagai peristiwa penting bangsa.
Baca juga: Jelajahi Harmoni Kota Tangerang, 5 Destinasi Wisata Religi Lintas Iman Sarat Sejarah dan Toleransi
Merujuk informasi Kementerian Pariwisata, berikut sejumlah destinasi wisata sejarah yang dapat menjadi pilihan untuk mengisi momentum HUT ke-81 RI.
1. Tugu Proklamasi
Tugu Proklamasi di kawasan Taman Proklamasi, Jalan Proklamasi Nomor 10, Menteng, Jakarta Pusat, menjadi salah satu lokasi penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.
Kawasan tersebut berada di lokasi yang berkaitan erat dengan kediaman Soekarno dan peristiwa pembacaan Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Baca juga: Sehari Keliling Kota Tangerang, Ini 5 Landmark Ikonik yang Wajib Masuk Daftar Wisata Akhir Pekan
Pengunjung dapat melihat sejumlah monumen, di antaranya Patung Proklamator Soekarno-Hatta, Monumen Naskah Proklamasi, Tugu Petir, serta Tugu Peringatan Satu Tahun Kemerdekaan atau Tugu Jarum. Berwisata ke kawasan ini dapat menjadi kesempatan untuk memahami kembali detik-detik lahirnya Republik Indonesia sekaligus mengenal simbol-simbol yang merekam perjalanan awal kemerdekaan.
2. Rumah Rengasdengklok
Rumah Sejarah Djiauw Kie Siong di Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, merupakan salah satu saksi penting menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.Pada 16 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta dibawa oleh golongan muda ke Rengasdengklok sebelum Proklamasi dikumandangkan.
Bangunan tersebut masih menyimpan berbagai peninggalan, termasuk kamar yang pernah digunakan kedua tokoh bangsa, perabotan lama, foto, serta berbagai dokumentasi sejarah.
Kunjungan ke Rumah Rengasdengklok dapat membantu wisatawan memahami dinamika antara golongan muda dan golongan tua menjelang Proklamasi sekaligus mengenal peran Djiauw Kie Siong dalam sejarah tersebut.
3. Hotel Majapahit
Hotel Majapahit di Jalan Tunjungan Nomor 65, Surabaya, Jawa Timur, merupakan salah satu bangunan yang lekat dengan sejarah perjuangan kemerdekaan.
Bangunan yang sebelumnya dikenal sebagai Hotel Oranje tersebut menjadi saksi peristiwa perobekan bagian biru bendera Belanda sehingga menjadi Merah Putih pada 19 September 1945. Kini, bangunan berarsitektur kolonial tersebut tetap berdiri dan menjadi salah satu destinasi yang menarik bagi wisatawan yang ingin melihat langsung jejak sejarah perjuangan rakyat Surabaya.
Selain mengenal sejarah, pengunjung dapat menikmati arsitektur klasik yang menjadi bagian dari warisan bangunan bersejarah di Kota Surabaya.
4. Benteng Fort Rotterdam
Benteng Fort Rotterdam di Jalan Ujung Pandang Nomor 1, Makassar, Sulawesi Selatan, menyimpan perjalanan sejarah yang panjang.
Benteng ini pada awalnya dibangun oleh Kesultanan Gowa pada 1545 dengan nama Benteng Ujung Pandang. Setelah Perjanjian Bongaya, benteng tersebut dikuasai Belanda dan kemudian dikenal sebagai Fort Rotterdam. Di kawasan benteng terdapat Museum La Galigo yang menyimpan berbagai koleksi sejarah dan budaya, termasuk keramik, senjata tradisional, serta pakaian adat.
Fort Rotterdam juga memiliki ruang yang pernah digunakan sebagai tempat pengasingan Pangeran Diponegoro. Arsitektur benteng yang khas menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan.
5. Museum Joang ’45
Museum Joang ’45 di Jalan Menteng Raya Nomor 31, Jakarta Pusat, merekam kiprah pemuda dalam perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia.
Bangunan tersebut pada awalnya merupakan Hotel Schomper sebelum digunakan sebagai pusat pendidikan politik dan tempat berkumpulnya kelompok pemuda pada masa pendudukan Jepang.
Pengunjung dapat melihat berbagai koleksi bersejarah, seperti kendaraan yang pernah digunakan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta, tandu yang berkaitan dengan perjuangan Jenderal Sudirman, senjata, pakaian, serta benda peninggalan para pejuang. Diorama, dokumentasi, perpustakaan, dan ruang pemutaran film dokumenter turut melengkapi pengalaman edukasi bagi pengunjung.
6. Monumen Nasional (Monas)
Monumen Nasional atau Monas menjadi salah satu simbol penting perjuangan kemerdekaan Indonesia. Berdiri setinggi 132 meter di kawasan Medan Merdeka, Gambir, Jakarta Pusat, Monas menjadi salah satu destinasi sejarah yang paling dikenal masyarakat.
Di bagian dasar Monas terdapat Museum Sejarah Nasional yang menampilkan diorama perjalanan Indonesia dari masa kerajaan, penjajahan, hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Ruang Kemerdekaan juga menyimpan berbagai simbol kenegaraan, termasuk naskah Proklamasi dan lambang Garuda Pancasila. Pengunjung juga dapat menuju pelataran puncak untuk melihat panorama Jakarta sekaligus menyaksikan Lidah Api Kemerdekaan yang menjadi simbol semangat perjuangan bangsa.
7. Museum Perumusan Naskah Proklamasi
Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Jalan Imam Bonjol Nomor 1, Menteng, Jakarta Pusat, menjadi tempat untuk menelusuri proses perumusan teks Proklamasi.
Bangunan tersebut merupakan bekas kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda yang menjadi lokasi perumusan naskah Proklamasi pada malam menjelang 17 Agustus 1945.
Di dalam museum, pengunjung dapat melihat ruang perumusan, ruang pengetikan naskah oleh Sayuti Melik, serta berbagai koleksi foto dan benda yang berkaitan dengan peristiwa menjelang kemerdekaan. Museum ini memberikan gambaran mengenai proses politik dan sejarah yang melatarbelakangi lahirnya teks Proklamasi.
8. Radio Republik Indonesia (RRI)
Radio Republik Indonesia atau RRI memiliki peran penting dalam sejarah penyebaran informasi pada masa awal kemerdekaan.
Sebagai lembaga penyiaran publik pertama di Indonesia, RRI turut menjadi bagian dari perjalanan komunikasi bangsa, termasuk dalam menyebarluaskan informasi mengenai kemerdekaan ke berbagai wilayah.
Di sejumlah fasilitas RRI, masyarakat dapat mengenal sejarah penyiaran, studio, ruang produksi, hingga perkembangan teknologi radio dari masa ke masa. Destinasi ini juga dapat menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin mengetahui hubungan antara sejarah kemerdekaan, media, dan penyebaran informasi kepada publik.
9. Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende
Rumah Pengasingan Bung Karno di Jalan Perwira, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, menyimpan kisah penting dalam perjalanan hidup Soekarno.
Soekarno menjalani masa pengasingan di Ende pada 1934 hingga 1938. Bangunan tersebut kini difungsikan sebagai museum yang menyimpan berbagai koleksi, mulai dari perabot, tempat tidur, foto, dokumen, hingga sejumlah peninggalan yang berkaitan dengan kehidupan Soekarno selama berada di Ende.
Kunjungan ke tempat ini memberikan kesempatan bagi wisatawan untuk memahami sisi lain perjuangan Soekarno ketika berada jauh dari pusat pergerakan nasional. Masa pengasingan tersebut juga menjadi bagian dari perjalanan pemikiran yang kelak berhubungan dengan gagasan kebangsaan dan Pancasila.
Memperingati kemerdekaan tidak harus selalu dilakukan dengan seremoni. Mengunjungi tempat-tempat bersejarah adalah cara lain untuk menyadari bahwa Indonesia tidak lahir dari ruang yang kosong. Ada pengorbanan, perdebatan, keberanian, bahkan kesunyian yang membentuk republik ini.
Pada akhirnya, sejarah bukan sekadar masa lalu yang selesai. Ia adalah cermin yang memaksa generasi hari ini bertanya: kemerdekaan yang diwariskan para pendahulu akan kita gunakan untuk apa? Sebab bangsa yang kehilangan ingatan sejarah pada akhirnya hanya akan menjadi penonton di atas tanahnya sendiri.
Reporter: VA Editor: Faisal




