Senin, 24 Agustus 2026

per

Buron Red Notice Jaringan Siber Asia Diringkus di Bandara Soetta

Jaringan penipuan online Asia 'abbishopee' rontok setelah buron Interpol Red Notice Aulia Zulfahni ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta terkait pencucian uang kripto.
Kejahatan Lintas Negara: Tersangka buron Interpol Red Notice, Aulia Zulfahni, saat diamankan tim gabungan Polri dan Imigrasi di Bandara Soekarno-Hatta terkait kasus penipuan siber 'abbishopee'.
TANGERANGbantensatu.id, Gerak taktis aparat penegak hukum kembali memutus mata rantai kejahatan siber lintas negara. Petugas gabungan secara mengejutkan berhasil membekuk Aulia Zulfahni, seorang buron internasional berstatus Interpol Red Notice, sesaat setelah ia menginjakkan kaki di Terminal 2 Kedatangan Internasional Bandara Soekarno-Hatta. Langkah represif ini membongkar realitas baru tentang betapa masifnya penetrasi sindikat penipuan daring yang meretas batas-batas kedaulatan digital.
Penangkapan ini merupakan buah dari operasi rahasia terintegrasi yang melibatkan Tim Divisi Hubungan Internasional (Divhubinter) Polri, Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri, Ditjen Imigrasi, serta pengamanan internal Avsec Bandara Soetta. Aulia diburu karena keterlibatan aktifnya dalam jaringan penipuan online terorganisir berskala Asia bermodus platform ‘abbishopee’, yang dikendalikan oleh otak kriminal bernama Yuan Kai.
“Keberhasilan penangkapan tersebut merupakan bukti soliditas aparat penegak hukum dan komitmen mutlak Polri untuk tidak memberikan ruang aman sekecil apa pun bagi para sindikat kejahatan transnasional,” tegas Ses NCB Interpol Indonesia, Brigjen Dani Hamdani pada Selasa, 4 Agustus 2026.

Modus operandi yang dilancarkan tergolong canggih dan manipulatif. Jaringan ini menjerat korbannya melalui sebaran pesan massal yang menawarkan peluang investasi fiktif berupa kepemilikan toko online tiruan (reseller) dengan iming-iming profit menggiurkan sebesar 10 hingga 40 persen. 
Untuk menguras psikologis korban, para operator menggunakan rekayasa sistem yang memalsukan data transaksi—membuat toko seolah-olah dibanjiri pembeli nyata. Namun, taktik ini hanyalah umpan agar korban terus mentransfer modal operasional, sebelum akhirnya seluruh sistem dan situs web diputus secara sepihak ketika korban mencoba mencairkan akumulasi keuntungan mereka.
Peran Aulia dalam konspirasi ini terbilang vital. Ia teridentifikasi sebagai satu dari 12 operator utama yang digaji secara khusus untuk mengelola rekayasa keuangan. Tugasnya meliputi penampungan dana hasil kejahatan menggunakan rekening bank pribadinya sebelum kemudian dikonversi menjadi aset kripto (cryptocurrency). Skema ini sengaja dipilih guna menyamarkan jejak aliran dana (money laundering) dari radar pelacakan otoritas keuangan nasional.
Penangkapan Aulia menyusul keberhasilan penangkapan buron Red Notice sebelumnya berinisial LCS di lokasi yang sama pada Minggu, 3 Mei 2026. LCS, yang terafiliasi erat dengan jaringan Kamboja, tercatat telah memicu sedikitnya 23 laporan polisi dari berbagai penjuru tanah air.
Ketika ruang digital diubah menjadi ladang perburuan mangsa oleh para mafia siber, penangkapan di Bandara Soetta ini menjadi sinyal keras. Negara tidak boleh kalah oleh kecanggihan algoritma kriminal. Karena pada akhirnya, kedaulatan sebuah bangsa hari ini tidak lagi diuji di garis perbatasan fisik, melainkan pada kemampuannya melindungi jemari warga negaranya dari tipu daya jaringan transnasional yang bersembunyi di balik layar digital.
Reporter: Irin Masi | Editor: ARMY

Baca juga: Polres Metro Tangerang Kota Buru Pemasok Utama Obat Keras Ilegal Usai Sita Ribuan Pil di Kosambi

Tags

Terkini