Kab.Tangerang, bantensatu.id- Menjelang perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026, perlengkapan lomba tradisional seperti panjat pinang mulai banyak diburu masyarakat. Salah satu alternatif yang kini semakin diminati adalah penggunaan tiang berbahan bambu.
Tingginya permintaan tersebut turut dirasakan para perajin bambu di Kabupaten Tangerang. Pesanan tiang bambu untuk perlombaan panjat pinang tahun ini disebut mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Apeng (41), perajin bambu asal Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, mengatakan hingga menjelang perayaan kemerdekaan tahun ini sudah terdapat sejumlah pesanan tiang panjat pinang dari masyarakat.
“Tahun kemarin kurang lebih ada 10 tiang bambu dipesan. Tapi sekarang mudah-mudahan lebih dari 20 tiang pemesanan ter-order untuk panjat pinang,” kata Apeng saat ditemui di Tangerang, Rabu.
Menurutnya, penjualan produk bambu untuk kebutuhan perlombaan 17 Agustus menunjukkan tren positif. Dalam sepekan terakhir, sedikitnya delapan tiang bambu telah dipesan untuk digunakan sebagai perlengkapan lomba panjat pinang.
“Penjualan bambu buat tahun ini alhamdulillah ada saja. Dibandingkan tahun kemarin ada kenaikan sedikit, kira-kira 10 sampai 15 persen,” ujarnya.
Baca juga: Kemarau Panjang Tak Selalu Jadi Bencana, Petani Cabai Lebak Justru Raup Puluhan Juta Rupiah
Apeng menjelaskan, tidak semua jenis bambu dapat digunakan sebagai tiang panjat pinang. Para perajin harus memilih bambu dengan spesifikasi tertentu agar kuat dan sesuai untuk digunakan dalam perlombaan.
Jenis bambu yang digunakan adalah bambu Gombong dengan panjang sekitar 8,5 meter. Selain berukuran besar, bambu harus memiliki bentuk yang lurus agar dapat diolah menjadi tiang panjat pinang.
“Untuk dijadikan tiang panjat pinang, tidak sembarang bambu yang bisa digunakan. Bambu khusus jenis Gombong dengan kriteria tertentu, seperti harus memiliki panjang sekitar 8,5 meter, berukuran besar, dan lurus kita siapkan,” terangnya.
Proses pembuatan tiang bambu tidak terlalu rumit, tetapi membutuhkan ketelitian dan ketelatenan. Pengerjaan dilakukan mulai dari bagian kepala bambu, proses pengikatan atau uletan, hingga pengamplasan.
Dalam kondisi fokus, seorang perajin dapat menyelesaikan hingga dua batang bambu dalam satu hari. Selain bambu, pembuatan tiang juga membutuhkan bahan pendukung seperti ikatan ban bekas sebagai pengaman serta paku.
Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, bambu didatangkan dari sejumlah daerah di luar Kabupaten Tangerang, seperti Rangkasbitung, Bayah, Bogor, hingga Pandeglang.
Menurut Apeng, bambu menjadi alternatif yang banyak diminati karena harganya relatif lebih terjangkau dibandingkan pohon pinang asli. Selain itu, ketersediaan pohon pinang yang sesuai untuk perlombaan juga semakin sulit ditemukan.
Pohon pinang asli disebut dapat mencapai harga sekitar Rp1 juta, sedangkan tiang panjat pinang berbahan bambu dijual jauh lebih murah.
“Satu unit panjat pinang bambu dibanderol seharga Rp300.000, dan bisa menjadi Rp250.000 setelah proses tawar-menawar. Harganya naik tipis sekitar Rp50.000 dibanding tahun sebelumnya yang berkisar di angka Rp200.000 hingga Rp250.000, karena penyesuaian harga bahan baku dari daerah asal,” paparnya.
Kenaikan harga tersebut, kata dia, dipengaruhi penyesuaian harga bahan baku yang didatangkan dari berbagai daerah.
Tidak hanya menyediakan tiang panjat pinang, perajin juga memanfaatkan momentum kemerdekaan dengan menyediakan berbagai perlengkapan berbahan bambu lainnya.
Di antaranya bambu untuk umbul-umbul yang dijual sekitar Rp100 ribu per ikat, dengan isi sembilan hingga 10 batang. Sementara bilah bambu untuk kebutuhan baliho dijual dengan kisaran harga Rp200 ribu hingga Rp250 ribu per unit.
Permintaan perlengkapan bambu tersebut datang dari berbagai wilayah di sekitar Tangerang, bahkan hingga Kota Tangerang Selatan.
“Pemesanan perlengkapan bambu banyak datang dari berbagai wilayah sekitar Tangerang hingga kawasan terjauh di Tangerang Selatan,” kata Apeng.
Bagi para perajin, meningkatnya permintaan menjelang HUT ke-81 RI bukan sekadar peluang meningkatkan penjualan. Momentum tersebut sekaligus menunjukkan bahwa tradisi perayaan kemerdekaan masih mampu menggerakkan ekonomi masyarakat di tingkat lokal.
Panjat pinang mungkin hanya berlangsung sehari, tetapi di balik sebatang bambu yang berdiri menjulang terdapat rantai ekonomi yang melibatkan perajin, pemasok bahan baku, hingga masyarakat yang menggelar perlombaan. Tradisi kemerdekaan pun membuktikan bahwa semangat 17 Agustus tidak hanya menghadirkan kegembiraan, tetapi juga membuka ruang bagi usaha kecil untuk terus bertahan dan berkembang.
Reporter: VA Editor: Faisal




