Sabtu, 30 Mei 2026

per

Komitmen Pemkot Tangsel Jaga Bus Sekolah Gratis di Tengah Tekanan Anggaran

Pelajar SMP dan SMA di Tangsel turun dari bus sekolah gratis berwarna kuning saat ditinjau langsung oleh Wakil Wali Kota Pilar Saga Ichsan di Pamulang.
Wakil Wali Kota Tangerang Selatan Pilar Saga Ichsan memantau langsung operasional dan berbincang dengan pelajar pengguna layanan bus sekolah gratis di halaman SMPN 17 Kota Tangsel, Pamulang, Kamis (21/5/2026).
Tangsel – bantensatu.id — Pagi yang masai di halaman SMP Negeri 17 Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Pamulang Barat, seketika hidup saat sebuah bus berwarna kuning cerah merapat ke sisi sekolah. Satu per satu siswa turun dengan tas punggung yang sarat asa, menyongsong gerbang sekolah setelah menempuh perjalanan dari sudut-sudut kota. Di tengah badai inflasi, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), serta tekanan pengetatan anggaran daerah, pemandangan ini menjadi bukti bahwa hak dasar atas pendidikan masih mendapat tempat utama.
Pemerintah Kota Tangsel memastikan layanan bus sekolah gratis ini tidak akan gulung tikar. Wakil Wali Kota Tangsel, Pilar Saga Ichsan, yang turun langsung meninjau operasional armada di sekolah tersebut pada Kamis (21/5/2026), menegaskan bahwa manfaat program ini terlalu besar untuk dikorbankan demi efisiensi fiskal semata.
“Untuk tahun ini sampai Desember, anggarannya sudah disiapkan supaya tetap berjalan,” ujar Pilar secara lugas sebagaimana dinukil dari rilis resmi, Minggu (24/5/2026). Komitmen politik anggaran ini diambil untuk menjaga stabilitas mobilitas pelajar di kota penyangga metropolitan. 
Inklusivitas Lintas Seragam dan Jarak
Program bus sekolah gratis ini sejatinya telah tumbuh menjadi penyangga urat nadi pendidikan publik di Tangsel. Di SMP Negeri 17 Tangsel sendiri, setidaknya 36 siswa menggantungkan perjalanan harian mereka pada fasilitas ini. Namun, inklusivitas menjadi nilai lebih dari program ini; bus kuning tidak mengenal sekat status sekolah.
Menyusuri rute panjang dari Pusat Pemerintahan Kota (Puspemkot) Tangsel hingga berakhir di Pamulang, bus ini turut mengangkut siswa dari berbagai sekolah swasta hingga sekolah negeri lain seperti SMAN 6 Kota Tangsel. Para pelajar yang tinggal di wilayah minim akses transportasi umum cukup menunggu di titik-titik jemput yang telah ditentukan. Asalkan berseragam sekolah, ruang bus terbuka lebar tanpa pungutan biaya satu rupiah pun.
Kepala SMPN 17 Kota Tangsel, Salim, mengakui program ini menjadi penyelamat bagi banyak kepala keluarga dalam mempertahankan akses pendidikan anak-anak mereka. “Bus ini sangat membantu karena ada yang rumahnya jauh dari sekolah,” kata Salim. Bahkan, beberapa siswa tercatat tetap bisa bertahan di sekolah yang sama berkat bus ini, meskipun keluarga mereka terpaksa pindah rumah ke lokasi yang jauh lebih pelosok. 
Kamilah, seorang siswi SMAN 6 Kota Tangsel yang bertempat tinggal di Pondok Benda Timur 5, Kelurahan Benda Baru, Kecamatan Pamulang, menjadi saksi hidup efisiensi program ini. Saban hari ia mengandalkan bus sekolah untuk memangkas pengeluaran ongkos harian. Kuncinya hanya satu: kedisiplinan. Para pelajar terkoneksi dalam grup percakapan digital bersama kondektur untuk memantau jadwal keberangkatan yang presisi.
“Kalau telat sedikit biasanya bus sudah jalan, jadi kami harus benar-benar mengikuti jam yang sudah dibagikan di grup,” ungkap Kamilah. Saat lonceng pulang berbunyi, ia bersama ratusan pelajar lain setia menanti bus di depan sekolahnya yang kebetulan berdampingan dengan SMPN 17. Menunggu beberapa waktu dinilainya jauh lebih aman dan teratur ketimbang harus berebut angkutan umum konvensional di tengah kemacetan kota.
Ikatan Humanis di Ruang Kemudi
Lebih dari sekadar instrumen kebijakan publik yang kaku, bus sekolah gratis ini telah melahirkan ruang interaksi sosial yang sarat nilai humanis. Bagi para orang tua, bus kuning bukan sekadar peranti pemotong anggaran belanja harian atau solusi di tengah himpitan jam kerja yang padat. Keberadaan program ini memicu rasa tahu budi yang mendalam.
Sebuah pemandangan hangat kerap tertangkap kamera di sekitar area Rumah Sakit Vitalaya Pamulang, salah satu titik tunggu bus. Di sana, para orang tua murid acap kali kedapatan menyelipkan bungkusan plastik berisi makanan sarapan pagi untuk sopir dan kondektur bus.
“Enggak seberapa sih, tapi kan itu tanda terima kasih pada mereka,” tutur salah seorang wali murid yang enggan identitasnya diumbar. Ikatan emosional yang tulus antara masyarakat dan pelayan publik inilah yang kemudian memunculkan gelombang desakan agar Pemkot Tangsel memperluas jangkauan rute bus ke wilayah kecamatan lain yang belum tersentuh.
Pemerintah daerah menangkap sinyal kebutuhan mendesak tersebut. Pilar Saga Ichsan menyatakan pihaknya akan terus melakukan evaluasi komprehensif, termasuk mengkaji potensi penambahan armada dan perluasan trayek di masa depan agar keadilan akses transportasi pendidikan ini merata.
Di kota penyangga metropolitan sepadat Tangerang Selatan, kemacetan akut dan biaya hidup yang merayap naik kerap kali berubah menjadi tembok tebal yang menjauhkan anak-anak dari ruang kelas. Keputusan Pemkot Tangsel untuk mengamankan anggaran bus sekolah gratis ini melampaui sekadar urusan logistik transportasi perkotaan. Ini adalah manifestasi nyata dari kehadiran negara; memastikan bahwa jarak geografis dan himpitan ekonomi tidak boleh lagi menjadi penentu mati atau tumbuhnya kesempatan seorang anak untuk belajar.
Pewarta: Dudi Arifin| Editor: Faisal

Tags

Terkini