Jumat, 15 Mei 2026

per

Misi Penyelamatan di Bibir Kawah Dukono, Bertaruh Nyawa di Tengah Erupsi Eksplosif

Visual kepulan asap tebal dan abu vulkanik yang membubung dari puncak Gunung Dukono saat proses pencarian berlangsung.
Kondisi visual terkini Gunung Dukono yang menunjukkan aktivitas vulkanik tinggi, menghambat proses evakuasi tiga pendaki yang terjebak di area kawah.
HALMAHERA UTARABantensatu News,Operasi kemanusiaan di kaki Gunung Dukono kini memasuki fase kritis. Di bawah bayang-bayang kolom abu setinggi 3.000 meter dan ancaman lava pijar, Tim SAR gabungan terus berupaya menembus batas bahaya demi menyelamatkan tiga nyawa yang terjebak dalam dekapan erupsi. Fokus pencarian kini tertuju pada titik koordinat yang menjadi harapan terakhir bagi satu warga Indonesia dan dua warga negara asing (WNA).
INTISARI BERITA
  • Status Operasi: Memasuki hari kedua pencarian terhadap 3 pendaki (1 WNI, 2 WNA).
  • Posisi Korban: Dua WNA terdeteksi hanya berjarak 20-30 meter dari bibir kawah utama; satu WNI masih dalam pelacakan.
  • Kendala Utama: Aktivitas vulkanik tinggi (Level II Waspada) dengan letusan kontinu dan medan ekstrem.
  • Aspek Hukum: Jalur pendakian sebenarnya telah ditutup total sejak 17 April 2026 melalui SK Bupati.

Misi penyelamatan ini bukan sekadar urusan teknis, melainkan pertaruhan nyawa. Kepala Pelaksana BPBD Halmahera Utara, Henjte M.L. Hetharia, menegaskan bahwa strategi evakuasi harus dilakukan dengan kalkulasi matematis yang matang.
Posisi dua WNA yang berada sangat dekat dengan kawah utama menempatkan personel SAR pada risiko tinggi, mengingat karakter erupsi Dukono yang sulit diprediksi.
Kepala Pusat Data BNPB, Abdul Muhari, melaporkan bahwa sejak Sabtu dini hari, Dukono telah mengalami serangkaian erupsi eksplosif. Lontaran lava pijar terlihat jelas dari Desa Mamuya, menandakan bahwa “dapur” magma gunung api ini sedang dalam kondisi sangat aktif.
“Kami mengoptimalkan segala sumber daya, namun keselamatan personel adalah prioritas yang tidak bisa ditawar,” ungkapnya.

Tragedi ini menjadi pengingat pahit mengenai kepatuhan terhadap peringatan dini. Padahal, Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara telah menetapkan radius bahaya 4 kilometer dan menutup akses pendakian secara resmi. Insiden ini membuka tabir masih adanya praktik pendakian ilegal yang menantang maut di kawasan rawan bencana (KRB).
BNPB kini memperketat pengawasan tidak hanya di Dukono, tetapi juga di puluhan gunung api aktif lainnya di Indonesia. Ketegasan sanksi bagi penyedia jasa pendakian yang nakal mulai disuarakan sebagai langkah preventif agar kemanusiaan tidak lagi harus berhadapan dengan risiko yang sebenarnya bisa dihindari. Di Halmahera Utara, doa dan usaha kini menyatu, berharap ada mukjizat di antara pekatnya abu vulkanik.
Pewarta: T.Fajar | Editor: Faisal

Tags

Terkini