KOTA TANGERANG — bantensatu.id, Di tengah fluktuas iklim global yang kian sulit diprediksi, langkah preventif berbasis data menjadi instrumen krusial dalam manajemen risiko bencana kota. Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang merespons tantangan ini secara taktis dengan memanfaatkan momentum musim kemarau untuk mengekselerasi normalisasi jaringan drainase primer dan sungai di berbagai titik vital.
Fokus penanganan kali ini diarahkan pada Kali Cantiga, sebuah saluran air strategis yang membelah wilayah Kecamatan Larangan, Kota Tangerang. Langkah pengerukan ini diambil sebagai strategi intervensi dini guna memulihkan kapasitas tampung sungai yang terus menyusut akibat sedimentasi masif.
Camat Larangan, Nasrullah, menegaskan bahwa proyek yang diarsiteki oleh Tim Operasional dan Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Tangerang ini bukan sekadar agenda rutin. Ini adalah manifesto mitigasi jangka panjang yang dirancang untuk mereduksi potensi bencana hidrometeorologi saat intensitas hujan meningkat di penghujung tahun.
“Kami memberikan dukungan penuh terhadap akselerasi yang dilakukan Dinas PUPR Kota Tangerang. Normalisasi Kali Cantiga krusial untuk membebaskan jalur air dari ancaman sedimentasi lumpur dan sumbatan sampah padat yang kerap mengganggu fungsi hidrolis sungai,” ujar Nasrullah saat melakukan peninjauan fisik di lapangan pada Rabu (22/7/2026).
Guna memastikan proyek berjalan presisi dan tepat waktu, Pemkot Tangerang telah menerjunkan satu unit alat berat (ekskavator) ke lokasi. Kehadiran teknologi mekanis ini diharapkan mampu mengurai tumpukan material yang mendangkalkan sungai secara efektif dan mengembalikan penampang basah Kali Cantiga ke kondisi ideal.
Dampak langsung dari restorasi fungsi sungai ini bertumpu pada aspek kemanusiaan dan jaminan keselamatan bagi warga yang bermukim di zona rentan. Secara spesifik, normalisasi ini diproyeksikan mampu membentengi kawasan padat penduduk, termasuk kompleks perumahan Puri Beta 1 di wilayah RW 12, Larangan Utara, serta area sekitarnya dari ancaman luapan air.
Kendati intervensi infrastruktur terus dikebut, keberlanjutan fungsi ekosistem sungai ini tidak dapat bertumpu tunggal pada otoritas birokrasi. Perlu ada kesadaran kolektif dari masyarakat penikmat ruang kota.
“Selain aspek struktural yang sedang berjalan, kami mengetuk kesadaran humanis seluruh elemen warga untuk aktif menjaga kebersihan Kali Cantiga”.
“Logikanya sederhana: ketika saluran air ini terbebas dari sampah, maka hak masyarakat untuk mendapatkan rasa aman dan lingkungan bebas banjir otomatis terpenuhi,” pungkas Nasrullah.
Reporter: Irin Masi| Editor: Faisal




