bantensatu.id-Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang bergerak taktis mengambil langkah proteksi dini guna melindungi kesehatan dan keselamatan puluhan ribu peserta didik dari sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau. Melalui Dinas Pendidikan, pemkot mengalihkan sementara moda belajar tatap muka menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi seluruh jenjang PAUD/TK, Sekolah Dasar (SD), hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) negeri dan swasta se-Kota Tangerang selama tiga hari, mulai Senin hingga Rabu (9/9/2026).
Langkah intervensi hulu ini diambil sebagai respons atas meningkatnya risiko paparan partikel abu vulkanik di udara yang berpotensi memicu gangguan saluran pernapasan akut (ISPA) bagi kelompok usia rentan.
Wali Kota Tangerang, H. Sachrudin, menegaskan bahwa skema PJJ ini dirancang agar proses transfer ilmu pengetahuan tetap berjalan secara terukur tanpa mengorbankan aspek keselamatan dan kesehatan anak-anak. Kebijakan ini secara resmi tertuang dalam Surat Edaran Dinas Pendidikan Kota Tangerang Nomor B/552/400.3/IX/2026 tentang Kewaspadaan terhadap Dampak Debu Vulkanik Gunung Anak Krakatau.
“Proses belajar-mengajar tetap berjalan dan tidak dihentikan, melainkan kita alihkan berbasis digital (PJJ). Ini adalah bentuk mitigasi kehati-hatian (precautionary principle) pemerintah daerah demi menjaga kesehatan anak-anak kita. Kebijakan ini diberlakukan selama tiga hari ke depan dan akan terus kita evaluasi secara berkala sesuai koordinasi data lapangan dengan otoritas kebencanaan yang berwenang,” tegas Sachrudin.
Guna melengkapi jaring pengaman kesehatan publik, Pemkot Tangerang mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk tetap tenang, membatasi mobilitas luar ruangan yang tidak mendesak, serta disiplin menggunakan masker medis jika terpaksa beraktivitas di ruang terbuka.
Wali Kota juga mewanti-wanti masyarakat agar memfilter setiap arus informasi dengan merujuk pada kanal komunikasi resmi pemerintah, guna mencegah kepanikan massal akibat maraknya disinformasi atau hoaks seputar aktivitas vulkanik. Melalui kesiapsiagaan tanggap darurat yang terintegrasi ini, Kota Tangerang optimistis dapat menekan dampak risiko bencana ekologis sekaligus menjaga kontinuitas layanan pendidikan daerah secara aman dan akuntabel.




