VLADIVOSTOK — BANTENSATU.ID, Panggung geopolitik di gerbang Pasifik mencatatkan dinamika diplomasi yang cair namun sarat makna strategis. Presiden RI Prabowo Subianto menghadiri Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 yang diselenggarakan di Far Eastern Federal University (FEFU), Vladivostok, Federasi Rusia, Kamis (3/9). Kehadiran Presiden Prabowo dalam forum ekonomi bergengsi ini memenuhi undangan khusus dari Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai tamu kehormatan utama (guest of honor).
Atmosfer penuh keakraban langsung mewarnai jalannya jamuan makan siang resmi sebelum forum dimulai. Gelak tawa Presiden Vladimir Putin pecah saat mendengarkan sambutan Presiden Prabowo yang menyatakan kehadirannya di Vladivostok adalah bentuk keseriusannya untuk ‘membayar utang’ diplomatik.
“Saya mohon maaf sebesar-besarnya karena saya tidak bisa menghadiri acara penting (KTT Rusia-ASEAN di Kazan pada Juni lalu) karena ada masalah dalam negeri yang tidak bisa saya tinggalkan. Tapi, saya membayar utang saya dengan hadir di Vladivostok sekarang. Sekali lagi terima kasih,” ujar Presiden Prabowo yang disambut senyuman lebar dan anggukan kepala tanda maklum dari Putin.
Merespons komitmen tersebut, Putin menegaskan posisi krusial Indonesia dalam peta geopolitik Kremlin. Hubungan personal yang kuat antara kedua pemimpin dinilai merefleksikan kedalaman kerja sama kedua negara yang telah terajut lebih dari lima desawarsa.
“Pertemuan kali ini merupakan pertemuan kedua pada tahun ini. Kontak pribadi kita mencerminkan sifat strategis dari hubungan bilateral antara Rusia dan Indonesia. Indonesia merupakan mitra paling kunci bagi Rusia di kawasan Asia Pasifik,” tegas Putin.
Sesi pidato utama dalam forum EEF ke-11 memuncak dengan tepuk tangan riuh dari para delegasi internasional saat Presiden Prabowo berdiri di podium yang sama dengan Putin, Ding Xuexiang (Wakil PM China), Nyam Osoryn Uchral (PM Mongolia), dan Nyo Saw (Wapres Pertama Myanmar). Dalam pidatonya, Prabowo secara memukau mengutip kearifan lokal masyarakat Rusia untuk mengontekstualisasikan semangat kolaborasi global.
“Para hadirin dan Yang Mulia sekalian, saya memahami bahwa masyarakat Rusia memiliki sebuah pepatah ‘Odin v pole ne voin’. Tidak akan ada kemenangan jika kita berjuang sendirian. Di Indonesia, kami memiliki pepatah yang serupa, kami menyebutnya ‘gotong royong’,” ucap Prabowo yang langsung disambut aplaus hangat dari Vladimir Putin.
Presiden Prabowo menggarisbawahi bahwa seluruh instrumen kerja sama ekonomi yang dibahas—mulai dari pos tarif dalam Free Trade Agreement (FTA), koridor transportasi, sistem pembayaran, hingga proyek industri—harus bermuara pada kesejahteraan riil masyarakat akar rumput di kedua negara.
“Segala hal yang kita bahas hari ini bertujuan untuk satu hal: agar seorang nelayan di Indonesia dan seorang pembuat kapal di Rusia sama-sama dapat menatap anak-anak mereka dan meyakini bahwa hari esok akan lebih baik daripada hari ini,” pungkasnya.
Reporter: Arumka| Editor: ARMAND




