JAKARTA —BANTENSATU.ID, Pasar valuta asing regional bergerak dinamis dengan kecenderungan positif. Mayoritas mata uang Asia berhasil membukukan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi perdagangan Kamis (3/9) pagi. Pelemahan indeks greenback memberikan ruang napas yang cukup bagi mata uang kawasan untuk merangsek naik ke zona hijau.
Berdasarkan data Refinitiv hingga pukul 09.18 WIB, dari 10 mata uang utama Asia yang dipantau, sebanyak tujuh mata uang sukses menguat, dua mata uang terkoreksi, dan satu mata uang lainnya bergerak stagnan.
Rupiah Garuda menjadi motor penggerak utama sekaligus mata uang dengan apresiasi paling tajam di Asia pagi ini, setelah melesat sebesar 0,31 persen ke posisi Rp17.695/US$.
Langkah impresif rupiah diikuti oleh yen Jepang yang menguat 0,25 persen ke level JPY 158,3/US$. Baht Thailand juga terapresiasi 0,18 persen ke posisi THB 33,12/US$, disusul ringgit Malaysia yang naik 0,17 persen ke MYR 4,036/US$.
Selanjutnya, peso Filipina menguat 0,09 persen ke PHP 62,474/US$, yuan China tumbuh tipis 0,02 persen ke CNY 6,7178/US$, dan dolar Taiwan merangkak naik 0,01 persen. Di kutub seberang, dong Vietnam menjadi titik terlemah dengan depresiasi 0,08 persen ke VND 26.090/US$, disusul won Korea Selatan yang melemah 0,03 persen ke KRW 1.358,85/US$. Sementara itu, dolar Singapura bergeming stagnan di level SGD 1,27/US$.
Akselerasi mata uang Asia ini terjadi secara linear dengan penurunan Indeks DXY (Indeks Dolar AS) yang merosot 0,06 persen ke level 99,537 pada pukul 09.17 WIB. Pelemahan dolar AS secara masif dipicu oleh kebangkitan yen Jepang setelah pasar menangkap sinyal adanya pengawasan ketat nilai tukar (rate check) oleh otoritas Tokyo, menyusul jatuhnya yen melewati ambang psikologis 160 per dolar AS.
Dorongan bagi mata uang Jepang kian solid pasca-pernyataan anggota dewan Bank of Japan (BOJ), Hajime Takata, yang menegaskan bahwa bank sentral harus menaikkan suku bunga secara lincah guna menjinakkan tekanan inflasi domestik. Sinyal hawkish ini memperkuat pernyataan Gubernur BOJ, Kazuo Ueda, yang berencana membawa agenda kenaikan suku bunga pada pertemuan bulan ini.
“Ini pergerakan yang cukup besar dan ini bisa menjadi waktu yang tepat bagi AS atau Jepang untuk setidaknya melakukan rate check, setelah komentar BOJ pagi ini,” ungkap Chris Scicluna, Head of Economic Research Daiwa Capital Markets Europe.
Kendati tertekan pagi ini, kejatuhan dolar AS diperkirakan masih tertahan oleh sejumlah faktor makro global. Lonjakan harga minyak mentah jenis Brent sebesar 1 persen akibat eskalasi konflik antara AS dan Iran memicu kekhawatiran baru atas gangguan rantai pasok energi dan risiko inflasi global.
“Pasar jelas khawatir terhadap perkembangan terbaru AS-Iran,” papar Eric Theoret, Currency Strategist Scotiabank.
Potensi inflasi tinggi akibat harga energi ini memicu spekulasi bahwa bank sentral AS (The Federal Reserve) berpeluang kembali menaikkan suku bunga acuan. Berdasarkan data Fed funds futures, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September melonjak drastis ke angka 63 persen, naik tajam dibandingkan estimasi awal sebesar 35 persen sebelum pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, di Jackson Hole pekan lalu.
Reporter: Mira Fitrianingsih Lesmana | Editor: ARMY




