Senin, 03 Agustus 2026

per

Sehari Keliling Kota Tangerang, Ini 5 Landmark Ikonik yang Wajib Masuk Daftar Wisata Akhir Pekan

Kota tangerang,bantensatu.id-Menghabiskan akhir pekan di Kota Tangerang kini semakin mudah dengan beragam destinasi yang saling terhubung dalam satu jalur perjalanan. Mulai dari ruang publik, wisata religi, bangunan bersejarah, panorama Sungai Cisadane, hingga pusat kuliner legendaris, seluruhnya dapat dinikmati hanya dalam sehari tanpa harus menempuh perjalanan yang jauh.

Kelima destinasi tersebut tidak hanya menjadi ikon Kota Tangerang, tetapi juga merepresentasikan wajah kota yang memadukan nilai sejarah, budaya, ruang publik, serta geliat ekonomi masyarakat.

Perjalanan dapat dimulai sejak pagi di Tugu Adipura, yang berada di Jalan Jenderal Sudirman. Kawasan ini menjadi pusat aktivitas masyarakat setiap pelaksanaan Car Free Day (CFD). Ribuan warga memanfaatkan area tersebut untuk berolahraga, bersepeda, mengikuti senam bersama, hingga berpartisipasi dalam berbagai kegiatan komunitas.

Baca juga: Wagub Banten Tantang Duta Pariwisata 2026 Eksplorasi Permata Tersembunyi

Selain berfungsi sebagai ruang publik, Tugu Adipura juga menjadi simbol keberhasilan Kota Tangerang dalam menjaga kebersihan dan pengelolaan lingkungan. Keberadaannya menjadikan kawasan ini sebagai salah satu landmark yang paling mudah dikenali oleh masyarakat maupun wisatawan.

Usai beraktivitas di kawasan Tugu Adipura, perjalanan dapat dilanjutkan menuju Masjid Raya Al-A’zhom, yang berada di kawasan Pusat Pemerintahan Kota Tangerang. Masjid ini dikenal sebagai salah satu ikon religi terbesar di Provinsi Banten dengan kubah utama berdiameter sekitar 63 meter tanpa tiang penyangga di ruang salat utama.

Lima kubah yang menghiasi bangunan tersebut melambangkan lima Rukun Islam sekaligus salat lima waktu. Selain menjadi pusat ibadah, kawasan masjid juga berkembang sebagai ruang publik yang nyaman. Pengunjung dapat menikmati area pelataran yang teduh, bersantai di hamparan rumput sintetis, hingga mengunjungi Galeri Islam yang berada di lantai dua.

Baca juga: Disbudpar Kota Tangerang Fasilitasi Sertifikasi BNSP Gratis untuk Fotografer Junior

Memasuki sore hari, wisata dapat dilanjutkan menuju Bendungan Pintu Air Sepuluh di Kelurahan Koang Jaya, Kecamatan Karawaci. Infrastruktur yang dibangun sejak tahun 1927 ini masih berfungsi sebagai pengatur debit Sungai Cisadane sekaligus mendukung sistem irigasi di wilayah Kota Tangerang dan sekitarnya.

Deretan sepuluh pintu air berukuran besar menjadi ciri khas yang melahirkan nama bendungan tersebut. Hingga kini, kawasan tersebut masih menjadi salah satu lokasi favorit masyarakat untuk menikmati panorama Sungai Cisadane dari sudut yang berbeda.

Tak jauh dari lokasi bendungan, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan menuju Jembatan Berendeng atau yang lebih dikenal sebagai Jembatan Kaca. Jembatan yang membentang di atas Sungai Cisadane ini menawarkan panorama kota dari ketinggian, lengkap dengan balkon pandang dan lantai kaca yang menjadi daya tarik bagi para pengunjung.

Menjelang matahari terbenam, kawasan ini menjadi salah satu titik favorit untuk menikmati pemandangan senja sembari menyaksikan aktivitas masyarakat di sepanjang tepian Sungai Cisadane.

Perjalanan wisata kemudian dapat ditutup pada malam hari di Kawasan Kuliner Pasar Lama Tangerang, yang berada di Jalan Kisamaun. Kawasan ini telah lama dikenal sebagai destinasi kuliner legendaris dengan ratusan pilihan makanan, mulai dari hidangan tradisional yang telah bertahan puluhan tahun hingga kuliner modern yang digemari kalangan muda.

Di balik geliat aktivitas kulinernya, Pasar Lama juga menyimpan nilai sejarah sebagai kawasan perdagangan tua di tepian Sungai Cisadane. Akulturasi budaya Tionghoa, Betawi, dan Sunda masih terasa melalui arsitektur bangunan, tradisi masyarakat, hingga ragam kuliner yang menjadi identitas kawasan tersebut.

Dengan jarak antarlokasi yang relatif berdekatan, lima landmark tersebut menjadi pilihan ideal bagi masyarakat maupun wisatawan yang ingin menikmati Kota Tangerang dalam satu hari. Perjalanan dimulai dari aktivitas olahraga, berlanjut ke wisata religi, menelusuri sejarah, menikmati panorama sungai, hingga menutup hari dengan berburu kuliner khas yang telah menjadi bagian dari identitas kota.

Sebuah kota tidak dikenang hanya karena gedung-gedung yang menjulang, tetapi karena ruang-ruang yang menghadirkan cerita. Ketika sejarah tetap dirawat, ruang publik terus dihidupkan, dan kuliner menjadi perekat keberagaman, maka kota itu sedang membangun identitasnya. Pada akhirnya, perjalanan terbaik bukanlah tentang seberapa jauh kita melangkah, melainkan seberapa banyak makna yang kita temukan di setiap sudut kota. (NS)

Tags

Terkini