Kamis, 17 September 2026

per

Antara Defisit Debit dan Jaminan Hak Air Warga

Wali Kota Tangerang Sachrudin bersama jajaran direksi PDAM Tirta Benteng menggunakan perahu karet menyusuri sedimen Sungai Cisadane yang mendangkal.
Menjaga Urat Nadi Kota: Defisit air akibat kemarau panjang memicu penurunan Tinggi Muka Air (TMA) Sungai Cisadane hingga 40 sentimeter dari ambang batas normal. Pemkot Tangerang kini mempercepat koordinasi lintas sektor untuk pengerukan sedimentasi dan pengajuan teknologi modifikasi cuaca.

KOTA TANGERANGbantensatu.id, Efek domino kemarau panjang mulai menguji ketahanan ekologis dan infrastruktur vital di hilir Provinsi Banten. Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang kini menaruh perhatian penuh pada Sungai Cisadane, sumber air baku utama kota, yang terus mengalami penyusutan volume. Merespons gelombang aduan masyarakat terkait penurunan kualitas air, Wali Kota Tangerang H. Sachrudin turun langsung memimpin operasi susur sungai pada Sabtu (12/9/2026).

Inspeksi taktis berskala besar ini melibatkan jajaran Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), BPBD, Perumda Tirta Benteng, hingga aliansi pegiat lingkungan. Langkah ini diambil guna memetakan mitigasi hulu-hilir agar hak atas air bersih bagi jutaan warga urban Tangerang tidak terputus di tengah cuaca ekstrem.
Berdasarkan instrumen pemantauan hidrologi di lapangan, Tinggi Muka Air (TMA) Sungai Cisadane terdeteksi merosot hingga 40 sentimeter di bawah batas normal terendahnya. Meski visualisasi sungai memperlihatkan pendangkalan di beberapa titik akibat tumpukan sedimen, otoritas memastikan struktur kedalaman sungai saat ini masih berada di rentang 4 hingga 9 meter.
Wali Kota Sachrudin menegaskan, kendati kondisi alam sedang tidak menguntungkan, cadangan air baku untuk konsumsi domestik masih berada dalam koridor terkendali. Masyarakat diimbau untuk tidak terjebak dalam kepanikan kolektif.
“Kondisi air saat ini terhitung aman. Diperkirakan kecukupan air dari Cisadane untuk dialirkan kepada masyarakat masih aman hingga satu bulan ke depan. Kami minta masyarakat tidak panik karena pemerintah dan PDAM terus hadir memastikan pelayanan air bersih tetap berjalan,” ujar Sachrudin secara lugas pasca-inspeksi.
Untuk mencegah skenario terburuk jika kekeringan meluas di luar proyeksi 30 hari kedepan, Pemkot Tangerang bergerak simultan di level birokrasi strategis. Koordinasi intensif telah dijajaki bersama Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSC). Fokus utamanya mencakup tiga aspek: normalisasi aliran, pengerukan sedimen di sekitar pipa isap (intake), hingga pengajuan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan ke lembaga nasional terkait.
Penyusutan debit air secara linear berdampak pada konsentrasi sedimen, yang memicu munculnya keluhan warga mengenai air keruh di sejumlah klaster pelanggan. Direktur Utama Perumda Tirta Benteng, Doddy Effendy, menyatakan pihaknya telah mengerahkan tim reaksi cepat ke titik-titik wilayah terdampak.
“Tim sudah kami turunkan untuk menyisir wilayah pelanggan yang menyampaikan keluhan. Kami terus melakukan penyesuaian teknologi pengolahan dan langkah-langkah penanganan agar kualitas air yang didistribusikan kembali sesuai standar mutu kesehatan,” tegas Doddy.
Di sisi lain, Sachrudin menekankan bahwa ketahanan air di masa krisis adalah kontrak sosial dua arah antara negara dan warganya. Ia menyerukan gerakan penghematan air secara massal dan mengutuk keras aktivitas pembuangan limbah domestik ke bantaran sungai yang memperparah beban ekologis Cisadane.
“Air bersih adalah kebutuhan kita bersama. Yang kita jaga hari ini bukan hanya aliran air, tetapi keberlangsungan kehidupan masyarakat,” pungkasnya.

“Ketika seorang Wali Kota harus turun ke sungai untuk mengukur 40 sentimeter air yang hilang, kita sebetulnya sedang melihat kepemimpinan yang sedang diuji oleh termometer alam.
Cisadane itu bukan sekadar genangan air di peta sosiologis Tangerang,namun  ia adalah indeks peradaban kota ini. Penurunan debit air ini adalah memo dari alam bahwa eksploitasi urban sering kali melupakan daya dukung lingkungan.
Pemkot mengklaim pasokan aman untuk satu bulan, tetapi kebijakan publik tidak bisa dikelola dengan doa agar hujan turun di hari ke-31. Yang kita butuhkan bukan sekadar manajemen kepanikan atau pengerukan lumpur yang sifatnya reaktif, melainkan etika ekologis yang radikal.

Air adalah hak asasi, dan membiarkan sungai ini sekarat oleh sedimentasi dan limbah adalah bentuk pengabaian intelektual terhadap masa depan kota.”

Reporter:Irin Masi
Editor: Armand

Baca juga: Angkut Sampah ke TPA Rawa Kucing Tetap Normal, Pemkot Tangerang Siapkan Rute Khusus Selama Perbaikan Jalan

Tags

Terkini