Minggu, 26 Juli 2026

per

Tangerang Berduka, Ketua DPRD Rusdi Alam Tutup Usia Usai Olahraga, Isak Tangis Warnai Pemakaman Poris Gaga

Suasana haru pemakaman Ketua DPRD Kota Tangerang Rusdi Alam di Tempat Pemakaman Keluarga Batuceper.
Suasana prosesi pemakaman almarhum Rusdi Alam di Poris Gaga yang dihadiri oleh jajaran Pemkot Tangerang dan ratusan pelayat
Panggung politik dan pemerintahan Kota Tangerang diselimuti awan duka yang mendalam. Ketua DPRD Kota Tangerang periode 2024–2029 sekaligus kader terbaik Partai Golkar, H. Rusdi Alam, S.Th.I., M.S.M., dinyatakan meninggal dunia pada Minggu (19/7/2026) malam. Kepergian mendadak sang legislator di usia 47 tahun ini menyisakan duka hebat bagi keluarga, kolega, hingga jajaran pejabat daerah yang mengiringi peristirahatan terakhirnya.
KOTA TANGERANG —bantensatu.id, Sebelum mengembuskan napas terakhirnya di Rumah SAKIT (RS) EMC Kota Tangerang sekitar pukul 18.30 WIB, Rusdi Alam diketahui menjalani serangkaian aktivitas yang cukup padat. Wakil Ketua DPRD Kota Tangerang, Turidi Susanto, membeberkan runtunan agenda almarhum sejak Minggu pagi.
Rusdi mengawali harinya dengan menghadiri kegiatan internal Partai Golkar di Tangerang, disusul kehadirannya pada sebuah festival di Masjid Raya Al-A’zhom. Menjelang sore hari, almarhum sempat meluangkan waktu untuk melakukan olahraga lari santai (jogging).
Petaka muncul sesaat setelah almarhum kembali ke rumah dan bersiap untuk menghadiri agenda dinas berikutnya. “Abis olahraga, persiapan mau ada acara dinas terus mandi, lalu kejang-kejang,” ungkap Turidi saat dikonfirmasi, Senin (20/7/2026).
Meski sempat dilarikan ke RS EMC untuk mendapatkan pertolongan medis darurat, nyawa Rusdi tidak tertolong. Terkait penyebab kematian mendadak ini, Turidi menduga adanya serangan jantung mendadak. “Penyebab belum tahu pasti, angin duduk mungkin istilahnya serangan jantung,” tambah Turidi.
Lahir di Tangerang pada 4 April 1979, Rusdi Alam mengukir karier politik yang solid di bawah bendera Partai Golkar. Sebelum dipercaya memegang tongkat kepemimpinan sebagai Ketua DPRD Kota Tangerang yang dilantik pada 30 September 2024, ia merupakan anggota DPRD aktif periode 2019–2024. Saat itu, ia bertugas di Komisi IV mewakili Daerah Pemilihan (Dapil) I meliputi Kecamatan Tangerang dan Kecamatan Karawaci.
Selama masa pengabdiannya, Rusdi dikenal luas sebagai figur pemimpin yang mengedepankan asas musyawarah mufakat demi menjunjung tinggi amanah rakyat. Ia dinilai konsisten membangun sinergi antara legislatif dan eksekutif (Pemerintah Kota Tangerang) dalam mengawal regulasi, penganggaran, serta pengawasan pelayanan publik.
Komitmennya pada sektor kerakyatan terbukti nyata ketika pada tahun 2026 ini, almarhum dianugerahi penghargaan bergengsi sebagai Tokoh Buruh Kota Tangerang bertepatan dengan momentum Hari Buruh Internasional (May Day), atas dedikasinya memperjuangkan kesejahteraan para pekerja setempat.
Almarhum Rusdi Alam meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak. Penghormatan terakhir mengalir deras sejak Senin pagi (20/7/2026). Sesuai dengan agenda resmi, jenazah terlebih dahulu disalatkan di rumah duka pada pukul 09.00 WIB, sebelum dibawa menuju Masjid Raya Al-A’zhom untuk pelaksanaan salat jenazah massal pada pukul 10.00 WIB.
Sekitar pukul 13.00 WIB, prosesi pemakaman dilangsungkan di Tempat Pemakaman Keluarga yang berada tepat di samping Masjid Al-Istiqomah, Jalan Budi Indah, Kelurahan Poris Gaga, Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang.
Ratusan pelayat lintas elemen tampak memadati area pemakaman. Isak tangis keluarga pecah tak terbendung saat tubuh sang legislator perlahan diturunkan ke liang lahad. Hadir memberikan penghormatan terakhir di lokasi makam di antaranya Wali Kota Tangerang Sachrudin, Wakil Wali Kota Maryono Hasan, serta sejumlah tokoh agama dan masyarakat yang tampak khusyuk memanjatkan doa di pusara almarhum.
Kematian Rusdi Alam di usia yang terbilang produktif mengirimkan sinyal eksistensial yang tajam kepada kita bahwa hidup, sesungguhnya, adalah sebuah kerapuhan yang tak pernah bisa diintervensi oleh ambisi jabatan atau padatnya lembaran protokol dinas. Di tengah puncak karier politiknya sebagai dirigen legislasi Kota Tangerang, tubuh biologisnya justru memilih untuk berhenti berdialektika.
 Tangis yang tumpah di Poris Gaga bukan sekadar ritual pelepasan sebuah jasad, melainkan bentuk kehilangan atas hilangnya nalar musyawarah yang selama ini melekat pada dirinya. Ketika seorang pemimpin dinobatkan sebagai tokoh buruh, ia telah meletakkan mahkota kekuasaan di kaki kaum marginal.
Kepergian Rusdi Alam adalah pengingat etis yang sunyi, Yakni bahwa pada akhirnya, yang tersisa dari panggung politik bukanlah megahnya kursi ketua, melainkan seberapa dalam jejak kemanusiaan yang berhasil ditinggalkan di hati rakyatnya sebelum tanah kembali menutup seluruh cerita.
Reporter: Irin Masi | Editor: Faisal

Tags

Terkini