Senin, 06 April 2026

per

Ritual Seba Badui 2026, Sebuah Gugatan Sunyi Terhadap Modernitas yang Gaduh

Warga Badui Luar berjalan di Kampung Kadu Ketug Lebak Banten.
Langkah Kaki Menuju Kesetiaan: Warga Badui melintasi kawasan ulayat sebagai persiapan ritual Seba 2026. (Foto: Dok. Istimewa)
LEBAK, BantenSatu News – Ada semacam ironi yang indah ketika kita membicarakan “Seba Badui”. Di saat manusia urban terjebak dalam algoritma dan transaksi semu, masyarakat adat di Pegunungan Kendeng justru bersiap melakukan “migrasi kesadaran” pada 24-26 April 2026 mendatang.
Seba bukan sekadar rutinitas birokrasi antara warga dan pemimpin daerah. Secara ontologis, ini adalah deklarasi tentang hubungan harmonis antara manusia, alam, dan kekuasaan. Jaro Saija (Kepala Desa Kanekes) menegaskan bahwa ritual ini adalah muara dari keheningan panjang masa Kawalu. Setelah tiga bulan membasuh batin, mereka turun gunung bukan untuk meminta, melainkan untuk memberi—membawa hasil bumi seperti gula aren dan talas sebagai simbol kedaulatan pangan.
“Seba adalah bahasa politik yang paling jujur,” mungkin begitu cara kita melihatnya. Di hadapan Bupati Lebak Moch Hasbi – Amir Hamzah dan Gubernur Banten Andra Soni – Dimyati Natakusumah, masyarakat Badui tidak membawa proposal proyek, melainkan laporan pertanggungjawaban moral atas kelestarian alam. Ini adalah kritik pedas bagi kita yang sering mengkhianati ekologi demi pertumbuhan ekonomi yang artifisial.
Kepala Disbudpar Lebak, Yosep M. Holis, memproyeksikan kehadiran 46 ribu wisatawan. Namun, tantangannya adalah: mampukah ribuan pasang mata itu menangkap “pikiran” Badui, atau sekadar menjadikannya konten di media sosial? Seba tahun ini, yang masuk kategori Seba Leutik dengan 1.500 partisipan, tetaplah sebuah monumen kejujuran yang menolak tunduk pada standarisasi modernitas yang seringkali manipulatif.
Masyarakat Badui sedang mengajarkan kita tentang etika publik: bahwa keamanan yang dijaga TNI-Polri dan kemakmuran dari tanah harus dibayar dengan rasa syukur yang konkret, bukan sekadar retorika.
Seba Badui 2026 adalah cermin retak bagi peradaban kita. Saat mereka berjalan kaki puluhan kilometer tanpa alas kaki, mereka sebenarnya sedang menuntun kita kembali pada akal sehat, bahwa bumi tidak butuh eksploitasi, ia butuh dirawat dengan akal yang humanis.
Penulis: Ilham Kusuma
Editor: Armand

Tags

Terkini