Senin, 03 Agustus 2026

per

Dari Cipadu ke Panggung Nasional, Dewi Sambi Angkat Wastra Nusantara Lewat Sentuhan Fashion Modern

Kota tangerang,bantensatu.id-Di tengah derasnya arus industri fashion modern, kekayaan wastra Nusantara tetap memiliki ruang untuk berkembang ketika dipadukan dengan inovasi dan kreativitas. Semangat itulah yang diwujudkan Uthie Mintiarto, pengusaha busana asal Cipadu, Kota Tangerang, melalui brand Dewi Sambi, yang konsisten mengangkat batik dan tenun dari berbagai daerah di Indonesia menjadi busana modern bernilai budaya.

Berawal dari keinginan menghadirkan karya fashion yang berkarakter sekaligus berkelanjutan, Uthie memilih menjadikan batik dan tenun sebagai identitas utama usahanya. Keputusan tersebut lahir dari keyakinannya bahwa kain tradisional Indonesia memiliki daya tarik yang tidak lekang oleh waktu dan tetap diminati berbagai kalangan.

“Kami ingin batik hadir sebagai pilihan busana harian yang percaya diri, fleksibel, dan relevan untuk semua generasi, termasuk anak muda. Rahasianya ada pada keberanian mengeksplorasi desain modern tanpa mengubah esensi dan filosofi proses pembuatan batiknya,” tutur Uthie.

Baca juga: Pemkot Tangerang Buka Bimtek Ekonomi Kreatif, Pelaku Usaha Dibekali Strategi Kuasai Pasar Digital

Menurutnya, batik tidak seharusnya hanya identik dengan acara formal atau busana generasi tertentu. Melalui sentuhan desain kontemporer, Dewi Sambi menghadirkan koleksi yang lebih elegan, nyaman dikenakan, sekaligus mampu mengikuti gaya hidup masyarakat modern tanpa menghilangkan nilai budaya yang terkandung di dalam setiap motif.

Terkait harga produk yang berada pada segmen premium, Uthie menilai nilai sebuah karya tidak hanya diukur dari bahan bakunya, tetapi juga dari proses panjang yang melibatkan keterampilan para perajin, ketelitian pengerjaan, serta cerita yang melekat pada setiap helai kain.

“Melihat karya Dewi Sambi dikenakan oleh para pejabat daerah di Banten, Kota Tangerang, hingga tingkat Kementerian dalam berbagai agenda formal menjadi kebanggaan tersendiri. Momen-momen seperti itulah yang memberikan dorongan moral sangat besar bagi kami untuk terus berkarya dan membesarkan usaha ini,” ungkapnya.

Baca juga: PEMKOT TANGERANG TEMBUS JAJARAN ELITE NASIONAL, IPKD MEROKET 86,23 DENGAN PREDIKAT BAIK

Di balik pencapaian tersebut, perjalanan membangun usaha tidak selalu berjalan mulus. Uthie mengakui tantangan terbesar dalam industri kreatif adalah menjaga konsistensi kualitas di tengah perubahan tren, dinamika ekonomi, dan fluktuasi pasar.

“Dalam membangun usaha kreatif, kreativitas memang penting, tetapi konsistensi adalah kunci utamanya. Bakat dan ide bagus tidak akan bertahan tanpa ketekunan untuk terus menjaga kualitas dan kepercayaan pelanggan,” tegasnya.

Melalui Dewi Sambi, Uthie membuktikan bahwa batik dan tenun dapat tampil modern tanpa kehilangan akar budayanya. Setiap koleksi dirancang sebagai perpaduan antara nilai tradisi dengan pendekatan desain yang lebih segar, sehingga dapat dikenakan dalam berbagai aktivitas, baik formal maupun kasual.

Masyarakat yang ingin melihat koleksi terbaru maupun melakukan pemesanan busana batik dan tenun eksklusif dapat mengunjungi akun Instagram resmi @dewisambi_ untuk memperoleh informasi mengenai produk dan layanan yang tersedia.

Warisan budaya tidak akan bertahan hanya karena dikenang, tetapi karena terus dipakai, dicintai, dan diberi ruang untuk berkembang. Ketika batik dan tenun mampu hadir dalam kehidupan modern tanpa kehilangan jati dirinya, yang terjaga bukan sekadar selembar kain, melainkan identitas bangsa yang terus hidup dari generasi ke generasi. Sebab, kebudayaan akan selalu menemukan masa depannya ketika ada orang-orang yang memilih merawatnya dengan karya, bukan sekadar kata. (NS) (Editor: Ismail Saleh, Faisal, ARMY)

Tags

Terkini